Cerita Danau Toba ya inilah yang kali ini akan blog Kukejar
bagikan untuk soba sobat, Sebelumnya saya sudah menulis Cerita
Malin Kundang yang durhaka pada
ibunya, nah yang ini beda lagi ceritanya. Danau toba dengan panjang 100
kilometer dan lebar 30 kilometer merupakan danau terbesar di Indonesia. Danau
yang di tengahnya terdapat Pulau Samosir ini terletak di Provinsi Sumatra
Utara, ada cerita Asal mula dari danau toba itu Bagaimana kisahnya ? yuk
disimak.
Cerita Rakyat Danau Toba
Pada jaman dahulu,
hiduplah seorang pemuda tani yatim piatu di bagian utara pulau Sumatra. Daerah
tersebut sangatlah kering. Pemuda itu hidup dari bertani dan mendurung ikan,
hingga pada suatu hari ia mendurung,sudah setengah hari ia melakukan pekerjaan
itu namun tak satu pun ikan di dapatnya.
Maka dia pun bergegas pulang karena hari pun mulai larut malam, namun ketika ia hendak pulang ia melihat seekor Ikan yang besar dan indah , warnanya kuning emas. Ia pun menangkap ikan itu dan dengan segera ia membawa pulang ikan tersebut, sesampainya di rumah karena sangat lapar maka ia hendak memasak Ikan itu tetapi karena indahnya ikan itu.
Dia pun mengurungkan niatnya untuk memasak ikan itu, ia lebih memilih untuk memeliharanya, lalu ia menaruhnya di sebuah wadah yang besar dan memberi makannya, keesokan harinya seperti biasanya ia pergi bertani ke ladangnya, dan hingga tengah hari Ia pun pulang kerumah, dengan tujuan hendak makan siang, tetapi alangkah terkejutnya dirinya, ketika melihat rumahnya, didalam rumah nya telah tersedia masakan yang siap untuk di makan, ia terheran heran, ia pun teringat pada ikannya karena takut di curi orang, dengan bergegas ia lari ke belakang, melihat ikan yang di pancingnya semalam. Ternyata ikan tersebut masih berada di tempatnya, lama ia berpikir siapa yang melakukan semua itu, tetapi karena perutnya sudah lapar , akhirnya ia pun menyantap dengan lahapnya masakan tersebut.
Dan kejadian ini pun terus berulang ulang, setiap ia pulang makan, masakan tersebut telah terhidang di rumahnya. Hingga pemuda tersebut mempunyai siasat untuk mengintip siapa yang melakukan semua itu, keesokan harinya dia pun mulai menjalankan siasatnya, Ia pun mulai bersembunyi diantara pepohonan dekat rumahnya. Lama ia menunggu, namun asap di dapur rumahnya belum juga terlihat, dan ia pun berniat untuk pulang karena telah bosan lama menunggu, namun begitu Ia akan keluar dari persembunyiannya, Ia mulai melihat asap di dapur rumahnya, dengan perlahan lahan ia berjalan menuju kebelakang rumah nya untuk melihat siapa yang melakukan semua itu.
Alangkah terkejutnya dirinya ketika ia melihat siapa yang melakukan semua itu, Dia melihat seorang Wanita yang sangat cantik dan ayu berambut panjang , dengan perlahan lahan Ia memasuki rumahnya, dan menangkap wanita tersebut. Lalu Ia berkata,
“hai .. wanita, siap kah engkau, dan dari mana asalmu?”
Wanita itu tertunduk diam, dan mulai meneteskan air mata, lalu pemuda itu pun melihat ikannya tak lagi berada di dalam wadah. Ia pun bertanya pada wanita itu,
“hai wanita kemanakah ikan yang di dalam wadah ini?”
Wanita itu pun semakin menangis tersedu sedu, namun pemuda tsb terus memaksa dan akhirnya wanita itu pun berkata
“Aku adalah ikan yang kau tangkap kemarin” .
Pemuda itu pun terkejut, namun karena pemuda itu merasa telah menyakiti hati wanita itu , maka pemuda tsb berkata,
“Hai wanita maukah engkau menjadi Istri ku..??”,
Wanita tsb terkejut , dia hanya diam & tertunduk ,lalu pemuda tsb berkata
“Mengapakah engkau diam ..!!” .
Lalu wanita tsb pun berkata , “ aku mau menjadi istri mu .. tetapi dengan satu syarat, apakah syarat itu balas pemuda itu dengan cepat bertanya, wanita itu berkata,
“Kelak jika anak kita lahir dan tumbuh, janganlah pernah engkau katakan bahwa dirinya adalah anakni Dekke(anaknya ikan)”.
Pemuda itu pun menyetujui persyaratan tsb dan bersumpah tidak akan mengatakannya, Dan menikahlah mereka.
Hingga mereka mempunyai anak yang berusia 6 tahunan , anak itu sangatlah bandal (jugul) dan tak pernah mendengar jika di nasehati, Lalu suatu hari sang ibu menyuruh anaknya untuk mengantar nasi ke ladang ketempat ayahnya, anak itu pun pergi mengantar nasi kepada ayahnya, namun di tengah perjalanan ia terasa lapar, Ia pun membuka makanan yang di bungkus untuk ayahnya, dan memakan makanan itu. Setelah selesai memakannya, kemudian ia pun membungkusnya kembali dan melanjutkan perjalanannya ketempat sang ayah, sesampainya di tempat sang ayah Ia memberikan bungkusan tersebut kepada sangayah, dengan sangat senang ayahnya menerimanya, lalu ayahnya pun duduk dan segera membuka bungkusan nasi yang di titipkan istrinya kepada anaknya, alangkah terkejutnya ayahnya melihat isi bungkusan tersebut. Yang ada hanya tinggal tulang ikan saja,sang ayah pun bertanya kepada anaknya
“hai anakku., mengapa isi bungkusan ini hanya tulang ikan belaka”, anaknya nya pun menjawab, “ di perjalanan tadi perutku terasa lapar jadi aku memakannya”, sang ayah pun emosi, dengan kuat ia menampar pipi anaknya sambil berkata
“Botul maho anakni dekke (betul lah engkau anaknya ikan),”
Sang anak pun menangis dan berlari pulang kerumah.,sesampainya dirumah anaknya pun menanyakan apa yang di katakan ayahnya
“mak .. olo do na di dokkon amangi, botul do au anakni dekke (mak .benarnya yang dikatakan ayah itu , benarnya aku ini anaknya ikan)” mendengar perkataan anaknya ibunya pun terkejut, sambil meneteskan air mata dan berkata di dalam hati.
“Suami ku telah melanggar sumpahnya,dan sekarang aku harus kembali ke alamku,”
Maka , langit pun mulai gelap , petir pun menyambar nyambar, Hujan badai pun mulai turun dengan derasnya, sang anak dan ibu raib, dari bekas telapak kaki mereka muncul mata air yang mengeluarkan air sederas derasnya, hingga daerah tersebut terbentuk sebuah Danau, yang Diberi nama Danau TUBA yang berarti danau tak tau belas kasih ,tetapi karena orang batak susah mengatakan TUBA, maka danau tersebut terbiasa disebut dengan DANAU TOBA.
Maka dia pun bergegas pulang karena hari pun mulai larut malam, namun ketika ia hendak pulang ia melihat seekor Ikan yang besar dan indah , warnanya kuning emas. Ia pun menangkap ikan itu dan dengan segera ia membawa pulang ikan tersebut, sesampainya di rumah karena sangat lapar maka ia hendak memasak Ikan itu tetapi karena indahnya ikan itu.
Dia pun mengurungkan niatnya untuk memasak ikan itu, ia lebih memilih untuk memeliharanya, lalu ia menaruhnya di sebuah wadah yang besar dan memberi makannya, keesokan harinya seperti biasanya ia pergi bertani ke ladangnya, dan hingga tengah hari Ia pun pulang kerumah, dengan tujuan hendak makan siang, tetapi alangkah terkejutnya dirinya, ketika melihat rumahnya, didalam rumah nya telah tersedia masakan yang siap untuk di makan, ia terheran heran, ia pun teringat pada ikannya karena takut di curi orang, dengan bergegas ia lari ke belakang, melihat ikan yang di pancingnya semalam. Ternyata ikan tersebut masih berada di tempatnya, lama ia berpikir siapa yang melakukan semua itu, tetapi karena perutnya sudah lapar , akhirnya ia pun menyantap dengan lahapnya masakan tersebut.
Dan kejadian ini pun terus berulang ulang, setiap ia pulang makan, masakan tersebut telah terhidang di rumahnya. Hingga pemuda tersebut mempunyai siasat untuk mengintip siapa yang melakukan semua itu, keesokan harinya dia pun mulai menjalankan siasatnya, Ia pun mulai bersembunyi diantara pepohonan dekat rumahnya. Lama ia menunggu, namun asap di dapur rumahnya belum juga terlihat, dan ia pun berniat untuk pulang karena telah bosan lama menunggu, namun begitu Ia akan keluar dari persembunyiannya, Ia mulai melihat asap di dapur rumahnya, dengan perlahan lahan ia berjalan menuju kebelakang rumah nya untuk melihat siapa yang melakukan semua itu.
Alangkah terkejutnya dirinya ketika ia melihat siapa yang melakukan semua itu, Dia melihat seorang Wanita yang sangat cantik dan ayu berambut panjang , dengan perlahan lahan Ia memasuki rumahnya, dan menangkap wanita tersebut. Lalu Ia berkata,
“hai .. wanita, siap kah engkau, dan dari mana asalmu?”
Wanita itu tertunduk diam, dan mulai meneteskan air mata, lalu pemuda itu pun melihat ikannya tak lagi berada di dalam wadah. Ia pun bertanya pada wanita itu,
“hai wanita kemanakah ikan yang di dalam wadah ini?”
Wanita itu pun semakin menangis tersedu sedu, namun pemuda tsb terus memaksa dan akhirnya wanita itu pun berkata
“Aku adalah ikan yang kau tangkap kemarin” .
Pemuda itu pun terkejut, namun karena pemuda itu merasa telah menyakiti hati wanita itu , maka pemuda tsb berkata,
“Hai wanita maukah engkau menjadi Istri ku..??”,
Wanita tsb terkejut , dia hanya diam & tertunduk ,lalu pemuda tsb berkata
“Mengapakah engkau diam ..!!” .
Lalu wanita tsb pun berkata , “ aku mau menjadi istri mu .. tetapi dengan satu syarat, apakah syarat itu balas pemuda itu dengan cepat bertanya, wanita itu berkata,
“Kelak jika anak kita lahir dan tumbuh, janganlah pernah engkau katakan bahwa dirinya adalah anakni Dekke(anaknya ikan)”.
Pemuda itu pun menyetujui persyaratan tsb dan bersumpah tidak akan mengatakannya, Dan menikahlah mereka.
Hingga mereka mempunyai anak yang berusia 6 tahunan , anak itu sangatlah bandal (jugul) dan tak pernah mendengar jika di nasehati, Lalu suatu hari sang ibu menyuruh anaknya untuk mengantar nasi ke ladang ketempat ayahnya, anak itu pun pergi mengantar nasi kepada ayahnya, namun di tengah perjalanan ia terasa lapar, Ia pun membuka makanan yang di bungkus untuk ayahnya, dan memakan makanan itu. Setelah selesai memakannya, kemudian ia pun membungkusnya kembali dan melanjutkan perjalanannya ketempat sang ayah, sesampainya di tempat sang ayah Ia memberikan bungkusan tersebut kepada sangayah, dengan sangat senang ayahnya menerimanya, lalu ayahnya pun duduk dan segera membuka bungkusan nasi yang di titipkan istrinya kepada anaknya, alangkah terkejutnya ayahnya melihat isi bungkusan tersebut. Yang ada hanya tinggal tulang ikan saja,sang ayah pun bertanya kepada anaknya
“hai anakku., mengapa isi bungkusan ini hanya tulang ikan belaka”, anaknya nya pun menjawab, “ di perjalanan tadi perutku terasa lapar jadi aku memakannya”, sang ayah pun emosi, dengan kuat ia menampar pipi anaknya sambil berkata
“Botul maho anakni dekke (betul lah engkau anaknya ikan),”
Sang anak pun menangis dan berlari pulang kerumah.,sesampainya dirumah anaknya pun menanyakan apa yang di katakan ayahnya
“mak .. olo do na di dokkon amangi, botul do au anakni dekke (mak .benarnya yang dikatakan ayah itu , benarnya aku ini anaknya ikan)” mendengar perkataan anaknya ibunya pun terkejut, sambil meneteskan air mata dan berkata di dalam hati.
“Suami ku telah melanggar sumpahnya,dan sekarang aku harus kembali ke alamku,”
Maka , langit pun mulai gelap , petir pun menyambar nyambar, Hujan badai pun mulai turun dengan derasnya, sang anak dan ibu raib, dari bekas telapak kaki mereka muncul mata air yang mengeluarkan air sederas derasnya, hingga daerah tersebut terbentuk sebuah Danau, yang Diberi nama Danau TUBA yang berarti danau tak tau belas kasih ,tetapi karena orang batak susah mengatakan TUBA, maka danau tersebut terbiasa disebut dengan DANAU TOBA.
Hari ini, saya memposting naskah drama yang dikembangkan
dari cerita rakyat Danau Toba. Ada beberapa perbedaan antara naskah ini dengan
cerita rakyat Indonesia tentang danau paling terkenal di Sumatera Utara
tersebut. Tapi, perbedaan itu bukanlah untuk mengubah alur cerita, melainkan
untuk memudahkan penulisan dan memberikan pemahaman kepada para pemain dan
penonton.
Ada tiga pemain dalam naskah drama yang ditulis berdasarkan cerita rakyat Danau Toba ini. Pertama, Toba selaku tokoh utama; kedua, Putri selaku ikan yang berubah menjadi seorang perempuan yang cantik; ketiga, Samosir selaku putra Toba dan Putri. Naskah drama ini ditulis dan dikembangkan untuk membantu teman-teman yang ingin mementaskan drama yang mengambil setting cerita rakyat Danau Toba - salah satu dari cerita rakyat Indonesia asal Sumatera Utara.
***
Babak I
1. [Toba, pemuda miskin yang tinggal di Sumatera Utara alias Medan dengan peralatan pancingnya, di atas panggung. Ia hendak memancing]
2. Toba: [dengan logat batak] “Dari pagi tadi hingga sore begini aku memancing, belum satu pun umpan disaut ikan. Kenapa tak ada ikan-ikan memakan umpan pancingku? Apa rasa umpan dari pancingku tidak enak? Atau karena Dewi Fortuna belum berada di pihakku? Aduh, kalau begini, bagaimana aku bisa makan hari ini? Oh, Tuhan, tolonglah hambamu ini…”
3. [Toba melempar umpan yang telah diikatkan pada tali pancing. Setelahnya duduk melamun, menunggu lagi]
4. Toba: [Tali pancang mengencang, tanda umpan dimakan ikan, Toba dengan ekspresi terkejut, sigap memegang joran] “Tampaknya, ikan besar yang menyambar umpanku.”
5. [Toba menarik tali pancing sekuat tenaga, hingga akhirnya seekor ikan mas berhasil ditarik olehnya.]
6. Toba: “Ikan yang besar, lumayan untuk lauk dua hari.”
7. [Ikan yang ditangkap oleh Toba mendadak berubah menjadi wanita berparas cantik nan anggun. Toba terkejut bercampur tidak percaya, saat melihatnya?]
8. Toba: “Putri dari mana kau? Dari kayangankah? Elok sekali paras kau.”
9. Putri: “Ya, aku Putri, dari kayangan, wahai Pemuda. Aku begini gara-gara dikutuk oleh para dewata karena telah melanggar peraturan di kayangan. Telah tersurat, jika aku tersentuh oleh makhluk lain, maka aku akan berubah seperti makhluk itu. Karena aku disentuh manusia, maka aku menjadi manusia.”
10. Toba: “Panjang sekali cerita kau, tak mengerti aku. Ah! Sudahlah, kau pulang dulu ke rumahku nanti kau ceritakan ulang.”
11. [Sesampainya di rumah Toba]
12. Putri: “Inikah rumah Abang? Berantakan sekali!”
13. Toba: “Aku terlalu sibuk mengurusi hal-hal lain di luar rumah. Jadi, tak sempat membersihkan rumah. Pasti kau kira rumahku itu bersih dan indah? Ya, beginilah kalau tinggal sendirian.”
14. Putri: “Lho, Abang sendirian? Orang tua Abang di mana, dari tadi tidak kelihatan?”
15. Toba: “Mereka telah meninggal 3 tahun lalu. Ayahku meninggal terlebih dulu, selang sebulan kemudian baru ibuku menyusul. Eh, tapi sudahlah tak perlu kau pikirkan. Itu sudah berlalu.”
16. Putri: “Maafkan aku. Ngomong-ngomong, nama Abang siapa?”
17. Toba : “Aku, Toba. Kalau kau siapa? Eh, sebentar, katanya kau dari kayangan. Berarti kupanggil kau Putri saja. Lebih elok didengarnya. Eh, tadi kau ngomong mau cerita lagi kenapa kau sampai bisa dikutuk jadi ikan mas. Ceritalah. Aku siap mendengar.”
18. Putri: “Ah! Sudahlah, tak perlu diingat lagi. Aku tak mau mengingat masa laluku. Tadi juga aku sudah berbagi dengan penonton dan Abang, tapi sepertinya Abang agak telat mikir. Yang penting sekarang, aku bisa menikmati rasanya menjadi seorang manusia.”
19. Toba: “Ya, sudahlah kalau kau tak mau cerita lagi.”
[Setelah berada di rumah Toba selama hari, tindak tanduk Putri membuat hati pemuda jomblo itu tertarik. Jadilah, ia mengungkapkan cintanya.]
20. Toba: “Putri, bolehkah aku mengatakan sesuatu pada kau?”
21. Putri: [Mengangguk dan tersenyum]
22. Toba: “Entahlah, apa yang kurasakan ini benar. Hmm, maksudku begini, kita berbeda kelas sosial. Kau Putri dari kayangan. Sementara, aku orang bumi. Hmm, … gimana ya?”
23. Putri: “Katakan saja apa yang ingin kau katakan, Bang…”
24. Toba: “Jujur, sejak melihatmu, entahlah ada yang berbeda pada diriku. Ada semacam getaran di hatiku, melihat paras kau yang elok dan anggun, tutur kata kau yang lembut, dan semuanya. Bisa dikatakan hmm… aku jatuh cinta padamu. Putri maukah menikah denganku?”
25. Putri: “Baiklah. Aku bersedia dengan syarat: Abang tidak boleh mengatakan mengenai asal-usulku. Dan jika kita punya anak nanti, Abang tak boleh memanggilnya dengan sebutan anak ikan. Karena itu menyakitiku juga.”
26. Toba: “Kalau masalah itu kau tak perlu takut. Rahasia ini akan kujaga baik-baik. Mari, kau kukenalkan dengan orang kampung. Kujamin mereka terpesona melihat keanggunanmu.”
27. Toba: “Warga, ayo ke sini! Aku mau mengenalkan kalian dengan calon istriku yang berasal dari i……”
28. Warga kampung: “Toba, ceritakanlah kisah cinta kalian.”
29. Toba: (dengan logat batak yang khas) “Aku bertemu dengannya di desa sebelah. Panjanglah ceritanya, aku sendiri sampai lupa bagaimana detail cerita aku bisa bertemu dengan wanita berparas cantik ini. Aku orang yang beruntung dapat menikahinya.”
Babak II
30. [Toba dan Putri telah menikah dan Toba sudah pindah rumah.]
31. Toba: [masih dengan logat batak yang kental] “Terimakasih atas apa yang sudah kau berikan pada Putri. Berkat kau, aku bisa tinggal di rumah modern seperti ini. Tidak seperti rumahku yang dulu. Sekali lagi terimakasih, Putri.”
32. Putri: “Abang, tidak perlu sungkan. Yang penting, sekarang kita bahagia.”
33. Toba: “Betul betul betul.”
34. Putri: [mengerahkan kesaktian yang dimilikinya] “Abang, ini adalah pemberianku yang terakhir. Setelah ini, kesaktianku akan hilang. Dan, aku tidak bisa memberikanmu sesuatu yang berharga lagi. Pergunakan pemberianku yang terakhir ini sebaik-baiknya.”
35. Toba: “Kau tak perlu takut. Aku pasti menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat dan takkan menyia-nyiaknnya. Kalau tidak ada kau, mungkin aku masih kerja sendirian di ladang sekarang.”
Babak III
36. [Toba dan Putri dikaruniai bayi laki-laki yang lucu.]
37. Toba: ”Nang, ning, ning, nang, ning, nung. Putri, kau lihat anak kita lucu ‘kali.”
38. Putri: “Iya, Bang. Ngomong-ngomong, anak kita dikasih nama apa, Bang?”
39. Toba: “Bagaimana kalau Samosir?”
40. Putri: [tersenyum] “Samosir, nama yang bagus. Cocok untuk anak kita, Bang.”
Babak IV
41. [Samosir tumbuh menjadi anak yang tampan, tetapi anak ini punya kebiasaan buruk. Anak ini tukang makan. Hal ini seringkali membuat Toba marah.]
42. Toba: [berteriak sambil setengah marah] “Putri, kau tidak masak hari ini? Bagaimana kau ini, tidak tahukah kau aku lelah pulang kerja. Ternyata, sampai rumah aku harus marah lagi.”
43. Putri: “Maaf, Bang. Tadi Samosir merasa sangat lapar. Jadi, bekal buat Abang dimakan sama Samosir. Ini mau saya buatkan lagi bekal untuk Abang. Ditunggu ya, Bang.”
44. Toba: [masih setengah marah] “Ya, sudah kutunggu. Tapi, lain kali jangan diulangi. Mana si Samosir? Samosir, ke mana kau? Sudah kenyang kau makan, Nak? Enak kau makan jatah punya ayahmu ini? Kau, tahu ayahmu ini lelah, letih, dan lesu.”
45. Samosir: “Maaf, Ayah. Tadi, Samosir sangat lapar. Jadi, Samosir makan punya ayah.”
46. Toba: “Ya sudah, ayah maafkan. Tapi lain kali, jangan diulangi ya, mengerti?”
47. Samosir: “Iya, Ayah. Samosir, janji.”
48. Toba: “Bagus.”
49. [Hal ini berlangsung terus sampai akhrinya kesabaran Toba sudah melampaui batas.]
50. Toba: [dengan nada marah] “Samosir, apa yang waktu itu kau janjikan kepada aku? Kau melanggar janjimu. Sekarang, aku harus menghukummu. Kau tidak boleh tidur di rumah ini, sebelum kau bisa mengendalikan rasa laparmu itu!”
51. Putri: [sambil menangis] ”Jangan, Bang! Samosir masih kecil, kalau Samosir sakit bagaimana, Bang? Apa Abang tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Samosir jika Abang melakukan ini. Samosir tak berdaya, Bang. Dia masih kecil.”
52. Toba: [masih dengan nada marah] “Ini jadinya kalau anak ini terus dimanja. Dia selalu bertindak sesuka hati, tidak memikirkan orang lain. Kalian berdua sama saja.”
53. Putri: [dengan nada memelas] “Sekarang terserah pada Abang! Kalau Abang ingin menghukum Samosir. Silakan! Tapi, Abang harus turuti permintaan saya. Saya minta Abang tidak mengusir Samosir dari rumah. Hanya itu permintaan saya.”
54. Toba: (marah agak mereda] “Samosir, karena ibumu yang meminta, Ayah tidak bisa menolak. Ayah tidak jadi mengusirmu. Tapi kau tetap harus menjalani hukumanmu. Selama seminggu, kau tidak kuizinkan tidur di kamar. Tempat tidurmu di gudang. Mengerti?”
55. Samosir: [sambil menangis] “Iya, Ayah. Samosir mengerti.”
56. [Empat bulan berlalu, Samosir yang sudah bebas dari hukumannya, masih dengan kebiasaannya yang sering lapar. Kali ini, kemarahan Toba sudah memuncak.]
57. Toba: [sangat marah] “Samosir, di mana kau?”
58. Samosir: “Aku di sini Ayah. Ada apa Ayah memanggilku?”
59. Toba: “Jangan banyak bertanya kau! Apakah kau makan lagi bekal untuk Ayah?”
60. Samosir: “Maaf, Ayah! Tadi, Samosir sangat lapar, terpaksa Samosir makan bekal Ayah?”
61. Toba: [menarik cuping telinga Samosir sambil membawanya ke luar rumah] “Kau tahu Ayah dari mana? Kau tahu Ayah ini bekerja di ladang, banting tulang. Untuk siapa? Untuk kau! Tapi, seenaknya saja kau makan bekal Ayah. Sekali, dua kali sudah Ayah maafkan, tapi ini sudah berulang kali. Kau tahu itu bukan?”
62. Samosir: [menangis] “Maaf, Ayah! Samosir akan mencoba untuk tidak mengulanginya lagi. Jangan hukum Samosir lagi Ayah.”
63.Toba: “Sudah! Tak ada lagi kata maaf buat anak nakal seperti kau! Dasar anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau keturunan ikan!!”
64. [Sambil menangis, Samosir berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia mengadukan bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya diceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu.]
65. Putri: [Terkejut mendengar cerita Samosir] “Anakku, apa kau jujur? Apakah kau tidak membohongi Ibu?”
66. Samosir: [Menggeleng] “Tidak, Bu. Apa benar aku ini anak ikan, Bu? Jawab, Bu!
67. Putri: “Sekarang, Ibu minta kau untuk tidak mempedulikan perkataan Ayahmu. Segeralah pergi mendaki bukit yang terletak tidak begitu jauh dari rumah kita dan kau harus memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu.”
68. Samosir: “Baik, Bu!”
69. [Samosir segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari menuju bukit yang dimaksud ibunya, kemudian mendakinya. Ketika tampak oleh ibunya bahwa Samosir sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit , dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh dari rumah mereka itu.]
70. Putri: [sambil berlari ke arah sungai] “Sudah tidak ada lagi yang bisa kupercaya. Toba sudah berkhianat!”
71. [Akhir cerita, setibanya Putri di tepi sungai, mendadak langit menggelap, kilat menyambar disertai bunyi guruh yang menggelegar. Putri kemudian melompat ke dalam sungai. Ia berubah menjadi seekor ikan besar lagi. Pada saat yang sama, sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap ke mana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir. Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar. Di kemudian hari, orang-orang menyebutnya Danau Toba dan pulau kecil yang berada di tengah-tengahnya dinamai Pulau Samosir.]
***
Demikianlah postingan cerita rakyat Indonesia kali ini. Oiya, naskah drama ini bisa dikembangkan sesuai dengan imajinasi teman-teman sekalian. Semoga bermanfaat ^^
Ada tiga pemain dalam naskah drama yang ditulis berdasarkan cerita rakyat Danau Toba ini. Pertama, Toba selaku tokoh utama; kedua, Putri selaku ikan yang berubah menjadi seorang perempuan yang cantik; ketiga, Samosir selaku putra Toba dan Putri. Naskah drama ini ditulis dan dikembangkan untuk membantu teman-teman yang ingin mementaskan drama yang mengambil setting cerita rakyat Danau Toba - salah satu dari cerita rakyat Indonesia asal Sumatera Utara.
***
Babak I
1. [Toba, pemuda miskin yang tinggal di Sumatera Utara alias Medan dengan peralatan pancingnya, di atas panggung. Ia hendak memancing]
2. Toba: [dengan logat batak] “Dari pagi tadi hingga sore begini aku memancing, belum satu pun umpan disaut ikan. Kenapa tak ada ikan-ikan memakan umpan pancingku? Apa rasa umpan dari pancingku tidak enak? Atau karena Dewi Fortuna belum berada di pihakku? Aduh, kalau begini, bagaimana aku bisa makan hari ini? Oh, Tuhan, tolonglah hambamu ini…”
3. [Toba melempar umpan yang telah diikatkan pada tali pancing. Setelahnya duduk melamun, menunggu lagi]
4. Toba: [Tali pancang mengencang, tanda umpan dimakan ikan, Toba dengan ekspresi terkejut, sigap memegang joran] “Tampaknya, ikan besar yang menyambar umpanku.”
5. [Toba menarik tali pancing sekuat tenaga, hingga akhirnya seekor ikan mas berhasil ditarik olehnya.]
6. Toba: “Ikan yang besar, lumayan untuk lauk dua hari.”
7. [Ikan yang ditangkap oleh Toba mendadak berubah menjadi wanita berparas cantik nan anggun. Toba terkejut bercampur tidak percaya, saat melihatnya?]
8. Toba: “Putri dari mana kau? Dari kayangankah? Elok sekali paras kau.”
9. Putri: “Ya, aku Putri, dari kayangan, wahai Pemuda. Aku begini gara-gara dikutuk oleh para dewata karena telah melanggar peraturan di kayangan. Telah tersurat, jika aku tersentuh oleh makhluk lain, maka aku akan berubah seperti makhluk itu. Karena aku disentuh manusia, maka aku menjadi manusia.”
10. Toba: “Panjang sekali cerita kau, tak mengerti aku. Ah! Sudahlah, kau pulang dulu ke rumahku nanti kau ceritakan ulang.”
11. [Sesampainya di rumah Toba]
12. Putri: “Inikah rumah Abang? Berantakan sekali!”
13. Toba: “Aku terlalu sibuk mengurusi hal-hal lain di luar rumah. Jadi, tak sempat membersihkan rumah. Pasti kau kira rumahku itu bersih dan indah? Ya, beginilah kalau tinggal sendirian.”
14. Putri: “Lho, Abang sendirian? Orang tua Abang di mana, dari tadi tidak kelihatan?”
15. Toba: “Mereka telah meninggal 3 tahun lalu. Ayahku meninggal terlebih dulu, selang sebulan kemudian baru ibuku menyusul. Eh, tapi sudahlah tak perlu kau pikirkan. Itu sudah berlalu.”
16. Putri: “Maafkan aku. Ngomong-ngomong, nama Abang siapa?”
17. Toba : “Aku, Toba. Kalau kau siapa? Eh, sebentar, katanya kau dari kayangan. Berarti kupanggil kau Putri saja. Lebih elok didengarnya. Eh, tadi kau ngomong mau cerita lagi kenapa kau sampai bisa dikutuk jadi ikan mas. Ceritalah. Aku siap mendengar.”
18. Putri: “Ah! Sudahlah, tak perlu diingat lagi. Aku tak mau mengingat masa laluku. Tadi juga aku sudah berbagi dengan penonton dan Abang, tapi sepertinya Abang agak telat mikir. Yang penting sekarang, aku bisa menikmati rasanya menjadi seorang manusia.”
19. Toba: “Ya, sudahlah kalau kau tak mau cerita lagi.”
[Setelah berada di rumah Toba selama hari, tindak tanduk Putri membuat hati pemuda jomblo itu tertarik. Jadilah, ia mengungkapkan cintanya.]
20. Toba: “Putri, bolehkah aku mengatakan sesuatu pada kau?”
21. Putri: [Mengangguk dan tersenyum]
22. Toba: “Entahlah, apa yang kurasakan ini benar. Hmm, maksudku begini, kita berbeda kelas sosial. Kau Putri dari kayangan. Sementara, aku orang bumi. Hmm, … gimana ya?”
23. Putri: “Katakan saja apa yang ingin kau katakan, Bang…”
24. Toba: “Jujur, sejak melihatmu, entahlah ada yang berbeda pada diriku. Ada semacam getaran di hatiku, melihat paras kau yang elok dan anggun, tutur kata kau yang lembut, dan semuanya. Bisa dikatakan hmm… aku jatuh cinta padamu. Putri maukah menikah denganku?”
25. Putri: “Baiklah. Aku bersedia dengan syarat: Abang tidak boleh mengatakan mengenai asal-usulku. Dan jika kita punya anak nanti, Abang tak boleh memanggilnya dengan sebutan anak ikan. Karena itu menyakitiku juga.”
26. Toba: “Kalau masalah itu kau tak perlu takut. Rahasia ini akan kujaga baik-baik. Mari, kau kukenalkan dengan orang kampung. Kujamin mereka terpesona melihat keanggunanmu.”
27. Toba: “Warga, ayo ke sini! Aku mau mengenalkan kalian dengan calon istriku yang berasal dari i……”
28. Warga kampung: “Toba, ceritakanlah kisah cinta kalian.”
29. Toba: (dengan logat batak yang khas) “Aku bertemu dengannya di desa sebelah. Panjanglah ceritanya, aku sendiri sampai lupa bagaimana detail cerita aku bisa bertemu dengan wanita berparas cantik ini. Aku orang yang beruntung dapat menikahinya.”
Babak II
30. [Toba dan Putri telah menikah dan Toba sudah pindah rumah.]
31. Toba: [masih dengan logat batak yang kental] “Terimakasih atas apa yang sudah kau berikan pada Putri. Berkat kau, aku bisa tinggal di rumah modern seperti ini. Tidak seperti rumahku yang dulu. Sekali lagi terimakasih, Putri.”
32. Putri: “Abang, tidak perlu sungkan. Yang penting, sekarang kita bahagia.”
33. Toba: “Betul betul betul.”
34. Putri: [mengerahkan kesaktian yang dimilikinya] “Abang, ini adalah pemberianku yang terakhir. Setelah ini, kesaktianku akan hilang. Dan, aku tidak bisa memberikanmu sesuatu yang berharga lagi. Pergunakan pemberianku yang terakhir ini sebaik-baiknya.”
35. Toba: “Kau tak perlu takut. Aku pasti menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat dan takkan menyia-nyiaknnya. Kalau tidak ada kau, mungkin aku masih kerja sendirian di ladang sekarang.”
Babak III
36. [Toba dan Putri dikaruniai bayi laki-laki yang lucu.]
37. Toba: ”Nang, ning, ning, nang, ning, nung. Putri, kau lihat anak kita lucu ‘kali.”
38. Putri: “Iya, Bang. Ngomong-ngomong, anak kita dikasih nama apa, Bang?”
39. Toba: “Bagaimana kalau Samosir?”
40. Putri: [tersenyum] “Samosir, nama yang bagus. Cocok untuk anak kita, Bang.”
Babak IV
41. [Samosir tumbuh menjadi anak yang tampan, tetapi anak ini punya kebiasaan buruk. Anak ini tukang makan. Hal ini seringkali membuat Toba marah.]
42. Toba: [berteriak sambil setengah marah] “Putri, kau tidak masak hari ini? Bagaimana kau ini, tidak tahukah kau aku lelah pulang kerja. Ternyata, sampai rumah aku harus marah lagi.”
43. Putri: “Maaf, Bang. Tadi Samosir merasa sangat lapar. Jadi, bekal buat Abang dimakan sama Samosir. Ini mau saya buatkan lagi bekal untuk Abang. Ditunggu ya, Bang.”
44. Toba: [masih setengah marah] “Ya, sudah kutunggu. Tapi, lain kali jangan diulangi. Mana si Samosir? Samosir, ke mana kau? Sudah kenyang kau makan, Nak? Enak kau makan jatah punya ayahmu ini? Kau, tahu ayahmu ini lelah, letih, dan lesu.”
45. Samosir: “Maaf, Ayah. Tadi, Samosir sangat lapar. Jadi, Samosir makan punya ayah.”
46. Toba: “Ya sudah, ayah maafkan. Tapi lain kali, jangan diulangi ya, mengerti?”
47. Samosir: “Iya, Ayah. Samosir, janji.”
48. Toba: “Bagus.”
49. [Hal ini berlangsung terus sampai akhrinya kesabaran Toba sudah melampaui batas.]
50. Toba: [dengan nada marah] “Samosir, apa yang waktu itu kau janjikan kepada aku? Kau melanggar janjimu. Sekarang, aku harus menghukummu. Kau tidak boleh tidur di rumah ini, sebelum kau bisa mengendalikan rasa laparmu itu!”
51. Putri: [sambil menangis] ”Jangan, Bang! Samosir masih kecil, kalau Samosir sakit bagaimana, Bang? Apa Abang tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Samosir jika Abang melakukan ini. Samosir tak berdaya, Bang. Dia masih kecil.”
52. Toba: [masih dengan nada marah] “Ini jadinya kalau anak ini terus dimanja. Dia selalu bertindak sesuka hati, tidak memikirkan orang lain. Kalian berdua sama saja.”
53. Putri: [dengan nada memelas] “Sekarang terserah pada Abang! Kalau Abang ingin menghukum Samosir. Silakan! Tapi, Abang harus turuti permintaan saya. Saya minta Abang tidak mengusir Samosir dari rumah. Hanya itu permintaan saya.”
54. Toba: (marah agak mereda] “Samosir, karena ibumu yang meminta, Ayah tidak bisa menolak. Ayah tidak jadi mengusirmu. Tapi kau tetap harus menjalani hukumanmu. Selama seminggu, kau tidak kuizinkan tidur di kamar. Tempat tidurmu di gudang. Mengerti?”
55. Samosir: [sambil menangis] “Iya, Ayah. Samosir mengerti.”
56. [Empat bulan berlalu, Samosir yang sudah bebas dari hukumannya, masih dengan kebiasaannya yang sering lapar. Kali ini, kemarahan Toba sudah memuncak.]
57. Toba: [sangat marah] “Samosir, di mana kau?”
58. Samosir: “Aku di sini Ayah. Ada apa Ayah memanggilku?”
59. Toba: “Jangan banyak bertanya kau! Apakah kau makan lagi bekal untuk Ayah?”
60. Samosir: “Maaf, Ayah! Tadi, Samosir sangat lapar, terpaksa Samosir makan bekal Ayah?”
61. Toba: [menarik cuping telinga Samosir sambil membawanya ke luar rumah] “Kau tahu Ayah dari mana? Kau tahu Ayah ini bekerja di ladang, banting tulang. Untuk siapa? Untuk kau! Tapi, seenaknya saja kau makan bekal Ayah. Sekali, dua kali sudah Ayah maafkan, tapi ini sudah berulang kali. Kau tahu itu bukan?”
62. Samosir: [menangis] “Maaf, Ayah! Samosir akan mencoba untuk tidak mengulanginya lagi. Jangan hukum Samosir lagi Ayah.”
63.Toba: “Sudah! Tak ada lagi kata maaf buat anak nakal seperti kau! Dasar anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau keturunan ikan!!”
64. [Sambil menangis, Samosir berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia mengadukan bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya diceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu.]
65. Putri: [Terkejut mendengar cerita Samosir] “Anakku, apa kau jujur? Apakah kau tidak membohongi Ibu?”
66. Samosir: [Menggeleng] “Tidak, Bu. Apa benar aku ini anak ikan, Bu? Jawab, Bu!
67. Putri: “Sekarang, Ibu minta kau untuk tidak mempedulikan perkataan Ayahmu. Segeralah pergi mendaki bukit yang terletak tidak begitu jauh dari rumah kita dan kau harus memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu.”
68. Samosir: “Baik, Bu!”
69. [Samosir segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari menuju bukit yang dimaksud ibunya, kemudian mendakinya. Ketika tampak oleh ibunya bahwa Samosir sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit , dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh dari rumah mereka itu.]
70. Putri: [sambil berlari ke arah sungai] “Sudah tidak ada lagi yang bisa kupercaya. Toba sudah berkhianat!”
71. [Akhir cerita, setibanya Putri di tepi sungai, mendadak langit menggelap, kilat menyambar disertai bunyi guruh yang menggelegar. Putri kemudian melompat ke dalam sungai. Ia berubah menjadi seekor ikan besar lagi. Pada saat yang sama, sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap ke mana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir. Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar. Di kemudian hari, orang-orang menyebutnya Danau Toba dan pulau kecil yang berada di tengah-tengahnya dinamai Pulau Samosir.]
***
Demikianlah postingan cerita rakyat Indonesia kali ini. Oiya, naskah drama ini bisa dikembangkan sesuai dengan imajinasi teman-teman sekalian. Semoga bermanfaat ^^
Cerita Rakyat – Asal Usul Danau Toba
Asal Usul Danau Toba
Di Sumatera Utara terdapat danau yang sangat besar dan ditengah-tengah danau tersebut terdapat sebuah pulau. Danau itu bernama Danau Toba sedangkan pulau ditengahnya dinamakan Pulau Samosir. Konon danau tersebut berasal dari kutukan dewa.
Di Sumatera Utara terdapat danau yang sangat besar dan ditengah-tengah danau tersebut terdapat sebuah pulau. Danau itu bernama Danau Toba sedangkan pulau ditengahnya dinamakan Pulau Samosir. Konon danau tersebut berasal dari kutukan dewa.
Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia
seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia
bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah.
Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup
sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. “Mudah-mudahan
hari ini aku mendapat ikan yang besar,” gumam petani tersebut dalam hati.
Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang.
Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat
seekor ikan cukup besar.
Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu
berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol
memancarkan kilatan yang menakjubkan. “Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan
bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku.” Petani tersebut terkejut
mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya
terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi
seorang gadis yang cantik jelita. “Bermimpikah aku?,” gumam petani.
“Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat
berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata,” kata
gadis itu. “Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu,” kata
gadis itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk. Maka jadilah mereka
sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka
tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji
itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.
Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis
cantik jelita bersama petani tersebut. “Dia mungkin bidadari yang turun dari
langit,” gumam mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami
yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan
ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu
hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan
sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. “Aku tahu
Petani itu pasti memelihara makhluk halus! ” kata seseorang kepada temannya.
Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa
tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.
Setahun kemudian, kebahagiaan Petani dan istri bertambah, karena
istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera.
Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi
seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia
mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu
merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.
Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika
disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu
mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. “Ya, aku akan
bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!” kata Petani kepada istrinya.
“Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah
yang baik,” puji Puteri kepada suaminya.
Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami
oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan
dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak
memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan
lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera sedang bermain bola.
Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. “Anak tidak tau diuntung !
Tak tahu diri ! Dasar anak ikan !,” umpat si Petani tanpa sadar telah
mengucapkan kata pantangan itu.
Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak
dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya,
tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan
desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga
membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu
akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya
dikenal dengan nama Pulau Samosir.
Sekian cerita rakyat kali ini, semoga bisa memberika pesan moral dan wejengan hidup
untuk kita semua.
Pencarian terkait : dialog danau toba, dialog asal usul
danau toba, Drama danau toba, dialog bahasa jawa, legenda
danau toba dalam bahasa inggris, dialog drama asal usul danau toba,
legenda danau toba dalam bahasa inggris dan terjemahannya, naskah drama
legenda danau toba, legenda danau toba singkat, contoh story
telling singkat, legenda danau toba dalam bahasa inggris dan
artinya, percakapan tentang danau toba, dialog legenda danau
toba, storytelling danau toba, teks drama asal usul danau toba,
drama legenda danau toba, asal mula danau toba dalam bahasa
inggris, asal usul singkat danau toba, naskah drama danau
toba, teks drama legenda danau toba, story telling legenda,
percakapan asal usul danau toba, dialog tentang legenda danau toba,
PENGERTIAN DANAU, naskah drama legenda danau toba dalam bahasa
inggris, legenda percakapan, definisi asal usul suatu daerah,
drama tentang danau toba, naskah drama danau toba versi inggris,
korea,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar