ASSALAMUALAIKUM :)

Selasa, 23 September 2014

pentingnya arsip dalam pemerintahan


Dalam menjalankan pelaksanaan tugas lembaga-lembaga pemerintah/swasta maupun perorangan tak bisa lepas dari kegiatan surat menyurat sebagai pendukung pelaksanaan tugas, baik yang diciptakan maupun yang diterima. Surat dan dokumen yang disebut arsip tersebut merupakan bahan kerja dalam rangka pencapaian tujuan organisasi.
Namun sampai saat ini masih ada atau bahkan banyak yang kurang perhatian terhadap masalah arsip. Arsip dianggap sebagai barang yang tidak beharga sehingga dibiarkan teronggok disudut ruangan kantor.
Bila kita mendengar kata arsip tentu yang terbayang pada benak kita adalah tumpukan tumpukan kertas yang memenuhi ruang kerja dan meja kantor, bahkan ada sebagian kantor yang menyimpan arsip dengan cara memasukkannya kedalam karung, penuh dengan debu dan kotor.Janganlah anda menganggap remeh sebuah arsip, meskipun itu hanya selembar kertas.
Tentunya anda pernah mendengar arsip bisa menyelamatkan negara!. Ingat akan kasus tuduhan suap atas dua pimpinan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Bibit Samad Riyanto dan Candra M Hamzah. Ketika itu Bibit dituduh menerima uang suap dari Ary Muladi di Belagio Residence Jakarta pada tanggal 18 Agustus 2008, tuduhan itu bisa dengan mudah dimentahkan. Alibinya adalah adanya surat undangan dari Pemerintah Peru, paspor dengan stempel dari Kantor Imigrasi, surat jalan KPK untuk tanggal 11 sd. 18 Agustus 2008 dan tiket penerbangan.
Pada dasarnya sebuah arsip mirip dengan perpustakaan, yang membedakan adalah kalau perpustakaan bebas dikunjungi oleh siapa saja, sedangkan sebuah arsip tidak selalu bebas dikunjungi orang, kecuali arsip negara yang memang dijadikan sebagai obyek wisata.
Pengertian Arsip
Banyak definisi tentang arsip, namun disini penulis hanya akan memberikan 3 (tiga) pengertian tentang arsip. Kata “arsip” merupakan kata serapan dari bahasa Belanda archief yang berarti tempat penyimpanan secara teratur bahan-bahan arsip : bahan-bahan tertulis, piagam, surat, keputusan, akte, daftar, dokumen, dan peta (Atomosudirjo : 1982).
Menurut UU No 7 tahun 1971 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kearsipan, arsip adalah naskah-naskah yang dibuat atau diterima oleh lembaga-lembaga negara dan badan-badan pemerintah/swasta ataupun perorangan dalam bentuk dan corak apapun baik dalam keadaan tunggal maupun kelompok dalam rangka pelaksanaan kehidupan kebangsaan.
Sedangkan menurut International Standars Organization (ISO/DIS 15489) arsip adalah informasi yang disimpan dalam berbagai bentuk, termasuk data dalam komputer, dibuat atau diterima serta dikelola oleh organisasi maupun orang dalam transaksi bisnis dan menyimpannya sebagai bukti aktivitas.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagimana cara menyimpan arsip yang mudah sehingga arsip yang kita butuhkan bisa dengan cepat kita temukan.kembali.
Cara mudah menyimpan arsip
Kesadaran akan arti pentingnya arsip harus tertanam pada semua karyawan baik atasan maupun bawahan. Apa jadinya kalau kita tidak perhatian pada masalah arsip. Jika arsip dibiarkan maka akan menimbulkan permasalahan baru yaitu akan dikemanakan arsip tersebut dan tentunya kita akan kesulitan dalam pencarian suatu dokumen yang diperlukan, yang lebih berbahaya apabila surat atau dokumen tersebut tersebut hilang atau jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggungjawab.
Untuk itu kita harus menyadari dan perlu kita tanamkan pada diri kita sendiri sebagai karyawan betapa pentingnya sebuah arsip, sehingga nantinya kita akan memperlakukan arsip dengan baik dengan cara menyimpan sebagaimana mestinya sebuah arsip. Untuk menghindari tumpukan arsip dimeja dan ruang kerja hendaknya sebuah arsip tersebut dipilah terlebih dahulu dengan mengidentifikasi kegunaan arsip tersebut apakah termasuk arsip aktif atau arsip inaktif .
Jika dalam kategori arsip aktif sebaiknya arsip tersebut disimpan dekat meja kita guna memudahkan penggunaannya, disamping itu penyimpanan arsip harus berdasarkan sistem kearsipan, yaitu cepat ditemukan kembali apabila diperlukan, dengan cara mengklasifikasi berdasarkan abjad, subyek, numeric, dan kode klasifikasi. Arsip aktif merupakan bagian penting dalam mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan, dan juga mendukung proses pengambilan keputusan, untuk itu arsip aktif harus selalu tersedia pada saat diperlukan maka kita simpan dekat dengan meja kita.
Arsip inaktif adalah arsip aktif yang telah selesai prosesnya dan telah menurun frekuensi pemakaiannya, dan jika dibiarkan akan memenuhi meja dan ruang kerja, untuk itu penyimpanannya lita serahkan pada unit kearsipan (central arsip ) organisasi atau dapat dimusnahkan dengan memperhatikanb karakteristik dan nilai guna dari arsip tersebut.
Apabila kita telah memahami arsip, memilah dan menyimpan arsip dengan mengidentifikasikan arsip aktif atau arsip inaktif akan menghindari bertumpuknya arsip di meja dan ruang kerja, juga kita terhindarkan dari permasal;ahan yang timbul karena hilangnya sebuah dokumen atau arsip.
Belajar dari kasus Bibit Samad Riyanto dan Candra M Hamzah di atas, apa jadinya kalau tidak ada arsip berupa surat undangan, tentu polisi bisa membuat keputusan yang keliru dan kursi sejumlah pimpinan KPK akan kosong.
Sumber : Gema Bersemi Edisi 02 Tahun 2011

kursor untuk blog

Kumpulan Cursor untuk Blog -
Sudah pernah lihat bukan bagaimana kursor tetangga blog kamu berbeda dengan punya kamu,kali ini Situs Alfi akan berbagi mengenai kursor !!,jadi yang nyari nyari kursor yang keren gak usah jauh-jauh lagi,disini aja sudah ada,silahkan di lihat-lihat dulu kursor yang cocok buat blog kamu






1.
<style type="text/css">body, a:hover {cursor: url(http://www.funutilities.com/files/cursors/7/7962/appstarting.gif), progress !important;}</style><a href="http://situsalfi.blogspot.com/2012/11/kumpulan-cursor-untuk-blog.html" target="_blank" title="Boat"><img src="http://cur.cursors-4u.net/cursor.png" border="0" alt="Dari : Situs Alfi" style="position:absolute; top: 0px; right: 0px;" /></a>

2.
<style type="text/css">body, a:hover {cursor: url(http://www.funutilities.com/files/cursors/B/E5D76CBF1E4EF814EA8C775FA61588C/appstarting.gif), progress !important;}</style><a href="http://situsalfi.blogspot.com/2012/11/kumpulan-cursor-untuk-blog.html" target="_blank" title="Boat"><img src="http://cur.cursors-4u.net/cursor.png" border="0" alt="Dari : Situs Alfi" style="position:absolute; top: 0px; right: 0px;" /></a>

3.http://www.funutilities.com/Files/Cursors/01/92E3D6A9EB667762A16BE7C643F3820A/appstarting.gif
<style type="text/css">body, a:hover {cursor: url(http://www.funutilities.com/Files/Cursors/01/92E3D6A9EB667762A16BE7C643F3820A/appstarting.gif), progress !important;}</style><a href="" target="_blank" title="Boat"><img src="http://cur.cursors-4u.net/cursor.png" border="0" alt="Dari : Situs Alfi" style="position:absolute; top: 0px; right: 0px;" /></a>

4.http://www.funutilities.com/files/cursors/3/22D8166DB7B9303F2DD3DA0AE5C44B5/arrow.gif
<style type="text/css">body, a:hover {cursor: url(http://www.funutilities.com/files/cursors/3/22D8166DB7B9303F2DD3DA0AE5C44B5/arrow.gif), progress !important;}</style><a href="http://situsalfi.blogspot.com/2012/11/kumpulan-cursor-untuk-blog.html" target="_blank" title="Boat"><img src="http://cur.cursors-4u.net/cursor.png" border="0" alt="Dari : Situs Alfi" style="position:absolute; top: 0px; right: 0px;" /></a>

5.http://www.funutilities.com/files/cursors/6/6447/wait.gif
<style type="text/css">body, a:hover {cursor: url(http://www.funutilities.com/files/cursors/6/6447/wait.gif), progress !important;}</style><a href="http://situsalfi.blogspot.com/2012/11/kumpulan-cursor-untuk-blog.html" target="_blank" title="Boat"><img src="http://cur.cursors-4u.net/cursor.png" border="0" alt="Dari : Situs Alfi" style="position:absolute; top: 0px; right: 0px;" /></a>

6.http://www.funutilities.com/files/cursors/2/D5C528739F2D5E0E662F67D089D166D/arrow.gif
<style type="text/css">body, a:hover {cursor: url(http://www.funutilities.com/files/cursors/2/D5C528739F2D5E0E662F67D089D166D/arrow.gif), progress !important;}</style><a href="http://situsalfi.blogspot.com/2012/11/kumpulan-cursor-untuk-blog.html" target="_blank" title="Boat"><img src="http://cur.cursors-4u.net/cursor.png" border="0" alt="Dari : Situs Alfi" style="position:absolute; top: 0px; right: 0px;" /></a>

7.http://www.funutilities.com/files/cursors/4/E09EEC12E68326A8C61B555E4C0584D/arrow.gif
<style type="text/css">body, a:hover {cursor: url(http://www.funutilities.com/files/cursors/4/E09EEC12E68326A8C61B555E4C0584D/arrow.gif), progress !important;}</style><a href="http://situsalfi.blogspot.com/2012/11/kumpulan-cursor-untuk-blog.html" target="_blank" title="Boat"><img src="http://cur.cursors-4u.net/cursor.png" border="0" alt="Dari : Situs Alfi" style="position:absolute; top: 0px; right: 0px;" /></a>/

8.http://www.funutilities.com/files/cursors/D/089D0A0FA1AC7832D76643F0EC81C1A/arrow.gif
<style type="text/css">body, a:hover {cursor: url(http://www.funutilities.com/files/cursors/D/089D0A0FA1AC7832D76643F0EC81C1A/arrow.gif), progress !important;}</style><a href="http://situsalfi.blogspot.com/2012/11/kumpulan-cursor-untuk-blog.html" target="_blank" title="Boat"><img src="http://cur.cursors-4u.net/cursor.png" border="0" alt="Dari : Situs Alfi" style="position:absolute; top: 0px; right: 0px;" /></a>

9.http://www.funutilities.com/files/cursors/9/9FADE529199C61FF0CEA656CC42C0DB/wait.gif
<style type="text/css">body, a:hover {cursor: url(http://www.funutilities.com/files/cursors/9/9FADE529199C61FF0CEA656CC42C0DB/wait.gif), progress !important;}</style><a href="" target="_blank" title="Boat"><img src="http://cur.cursors-4u.net/cursor.png" border="0" alt="Dari : Situs Alfi" style="position:absolute; top: 0px; right: 0px;" /></a>

10.http://www.funutilities.com/files/cursors/8/40608D92D3320CD3F6C92F3C9E5C3B6/arrow.gif
<style type="text/css">body, a:hover {cursor: url(http://www.funutilities.com/files/cursors/8/40608D92D3320CD3F6C92F3C9E5C3B6/arrow.gif), progress !important;}</style><a href="http://situsalfi.blogspot.com/2012/11/kumpulan-cursor-untuk-blog.html" target="_blank" title="Boat"><img src="http://cur.cursors-4u.net/cursor.png" border="0" alt="Dari : Situs Alfi" style="position:absolute; top: 0px; right: 0px;" /></a>

user education


PENDIDIKAN PENGGUNA DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI
prediksi tentang kendala pelaksanaannya
oleh Widodo H. Wijoyo
Abstract:
Perpustakan dan pustakawannya berada dalam lingkaran informasi dari berbagai subject dan alat akses-nya yang semakin hari semakin semakin membengkak kualitas dan kuantitasnya. Konsekuensinya, mereka harus membimbing para pengguna perpustakaan untuk mengakses informasi, agar mereka menjadi pengguna yang mandiri. Usaha bimbingan tersebut, yang lazim di perpustakan-perpustakaan lain disebut sebagai User Education, Bibliographic Instruction, Reader Education, dsb-nya seringkali terbentur berbagai kendala. Di mana salah satunya bersumber dari dalam diri mereka sendiri. Kendala-kendala tersebut dapat teratasi hanya dengan kesungguhan dan kiat baik dari pada para pengelola perpustakaan itu sendiri.
Artikel ini mencoba sedikit mengetengahkan apa yang sebenarnya menjadi kendala tersebut, sekaligus sedikit saran pemecahannya.
A PERPUSTAKAAN DAN “INFORMATION EXPLOSION”
Dalam beberapa dekade terakhir ini, dunia ditandai dengan meledaknya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mengakibatkan perpustakaan di seluruh dunia seolah-olah kebanjiran informasi. Untuk mengantisipasi gejala tersebut, perpustakaan harus selalu meningkatkan perannya, tak hanya dalam arti mengolah, menyajikan, mencari dan menyebarluaskan informasi, tetapi harus bisa juga mendorong terhadap penemuan-penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Membludaknya” informasi, yang lebih umum digambarkan dalam istilah “information flood” atau “oceans of information” yang menandai “the growth in the literature of science and technology”1, bertambahnya jumlah literatur di bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniti, dan subject lain dalam berbagai format; fasilitas telekomunikasi; dan teknologi aplikasi terbaru, seperti: komputer, katalog online, CD-ROM(s) dalam lingkungan perpustakaan menuntut perlunya peningkatan fungsi perpustakaan. Rader2 (1993) mengatakan
“In 1991 the environment in libraries has changed a great deal. We are now dealing with technologies that allow user to dial-up for information ….”.
Hal ini menuntut perpustakaan untuk selalu mendekatkan informasi dan alat aksesnya supaya para penggunanya dengan mudah, cepat dan akurat dapat menemukan informasi yang mereka perlukan, baik itu informasi yang ada dalam “printed materials”: baik itu buku atau periodical, maupun yang disebut “electronically stored”.
B PERPUSTAKAAN DAN PENGGUNANYA
Dalam dunia ilmu perpustakaan, semua mengetahui bahwa yang paling sering menggunakan perpustakaan PT adalah staff pengajar, mahasiswa dan para peneliti, dan juga tenaga administrasi yang ingin mencari informasi untuk mendukung tugas sehari-hari. Sekalipun jumlah tenaga administrasi terlalu kecil jika dibanding kandengan pengguna yang lain.
Setiap pengguna datang ke perpustakaan dengan maksudnya sendiri-sendiri. Hal itu akan tergantung dari background pendidikannya, disiplin ilmu atau tugas yang diembannya. Hasil survey (1992) yang dilaksnakan oleh Perpustakan Nasional Indonesia mengatakan bahwa, dari 5.527 responden 25.85 % datang ke perpustakaan untuk mencari informasi. Urutan selanjutnya dari hasil survey tersebut adalah 24.69 % hanya untuk membaca; 23,01 % untuk membuat makalah, paper, tugas, dll.; dan sisanya dibagi atas keperluan: studi pustaka, mencari literatur, alasan lainnya dan tidak menjawab.
Staff pengajar memanfaatkan perpustakaan untuk mencari informasi guna persiapan perkuliahan atau untuk meng-update informasi dalam risetnya. Hanya informasi yang bagaimana yang disyaratkan oleh mereka, Suprenant3 mengidentifikasi bahwa
“Teaching staff needs information that is complete, organised, relevant, accessible, interesting/useful, and in an appropriate format”.
Para peneliti, termasuk juga mahasiswa program pasca sarjana tentunya datang ke perpustakaan untuk mengakses informasi guna kelanjutan riset dan studi mereka. Oleh karenaanya, merekalah yang paling sering mencari dan memanfaatkan artikel-artikel terbaru di jurnal. Dan jurnallah merupakan salah satu sumber informasi yang paling memungkinkan untuk memuat itu.
Sedangkan mahasiswa program S1 dan diploma mengunjungi perpustakaan untuk membaca literature perkuliahannya. Mereka ingin memperluas wawasannya setelah selesai kuliah atau untuk menyelesaikan berbagai tugas: paper, riset dan penulisan skripsinya.
C PERLUNYA PENDIDIKAN PENGGUNA
Pengguna perpustakan, terutama mahasiswa dan tenaga pengajar baru, sering belum mengenal perpustakaan. Mereka tidak tahu letak koleksi, bagai mana cara menggunakannya, dan layanan-layanan apa yang tersedia diperpustakannya. Bahkan, pernah penulis jumpai, seorang mahasiswa yang tampaknya angkatan lama belum tahu apa itu katalog.
Melihat kenyataaan yang demikian menyedihkan, mereka harus diberi arahan, diberikan petunjuk tentang bagaimana memanfaatkan berbagai fasilitas yang ada di perpustakaan. Mereka harus diajarkan bagaimana menggunakan alat-alat itu untuk mengakses informasi, bagaimana memanfatkan layanan yang disediakan oleh perpustakaan, diajarkan pula di mana mereka bisa menanyakan apabila mereka menemui kesulitan atau mereka tidak menemukan koleksi yang diinginkan sedangkan perpustakaan tidak memilikinya.
Adalah juga tanggungjawab pustakawan untuk memberikan mereka ketrampilan menggunakan sumber-sumber informasi, termasuk journals, indexes, abstracts, dsb. dan alat-alat elektronik; dan membuat mereka “comfortable” terhadap sumber-sumber informasi dan teknologi tersebut, sehingga di masa mendatang mereka dapat memanfaatkan perpustakaan dengan mudah, cepat dan percaya diri. Inilah salah satu segi dari misi perpustakan untuk turut mensukseskan tujuan pendidikan nasional. Rader4 mengatakan di tahun 90-an ini, karena kemampuan atau kemahirannya dalam mengolah dan mengakses informasi, pustakawan perguruan tinggi adalah dalam posisi yang sangat vital untuk mensukseskan pendidikan tinggi.
D BEBERAPA KENDALA YANG SERING DIJUMPAI DALAM PELAKSANAAN PENDIDIKAN PEMAKAI
Namun sampai saat ini, masih kita jumpai persepsi pustakawan yang mengatakan bahwa, para pengguna harus secara otomatis tahu dan bisa menggunakan perpustakaan. Mereka berasumsi bahwa, pengguna tersebut telah dewasa dan tentunya mampu mandiri; dengan sendirinya mereka harus tahu banyak bagaimana seharusnya menggunakan perpustakaan. Anggapan semacam ini masih dijumpai di perustakaan di mana penulis bekerja. Dan tentunya masih akan dijumpai di perpustakaan perguruan tinggi yang lain.
Namun di sisi lain, sebagian besar pustakawan telah mencoba merubah pandangan yang demikian dengan membuka kesadaran bahwa, pengguna perlu bantuan dan petunjuk dalam memanfaatkan perpustakaan. Hal ini dimungkinkan karena pendidikan di bidang perpustakaan dan informasi yang mereka dapatkan pada akhir-akhir ini yang memberi penekanan pada layanan kepada pengguna. Tidak dipungkiri lagi di sini, dengan bekal pengetahuan dan pengalaman yang boleh dibilang belum memadai mereka telah menyelenggarakan pendidikan pengguna yang oleh perpustakaan-perpustakaan di negara maju disebut “user education”, “bibliographic instruction”, “user training”, “information literacy”, “reader education” “research library skills”, dll.
Kenyataan menyadarkan kita bahwa, pelaksanaan pendidikan pengguna di beberapa perpustakaan perguruan tinggi belumlah berkembang atau belumlah dilaksanakan secara professional seperti yang kita diharapkan, atau bahkan belum dilaksanakan oleh sejumlah perpustakaan. Hal terakhir terungkap dari hasil survey oleh Perpustakaan Nasional kita (1992): dari 5.527 responden (pengguna perpustakaan) 49.71 % menyatakan tidak ada bimbingan pengguna. Mungkin telah terjadi salah penafsiran terhadap usaha perpustakaan yang telah dilaksanakan. Di sisi perpustakaan, sebenarnya telah melaksanakan bimbingan pengguna, sekalipun masih dalam taraf dasar sekali (misalnya: pemasangan rambu-rambu atau tanda-tanda di perpustakaan), namun dari sisi pengguna, hal tersebut belumlah dianggap sebagai bimbingan pengguna. Ini yang perlu diterjemahkan oleh pustakawan, sehingga sekalipun masih berskala kecil tetapi merupakan usaha pustakawan untuk membimbing penggunanya.
Hal belum berkembangnya pendidikan pengguna dimungkinkan karena (i) masih terbatasnya pengertian akan arti dan pentingnya pendidikan pengguna dari sejumlah rekan pustakawan sendiri. Alasan ini sangat mendasar sekali, karena masih sangat minimnya literatur dan informasi mengenai pendidikan pengguna. Walaupun kita tahu bahwa, Direktorat Jendaral Pendidikan Tinggi melalui Sub Proyek Pembinaan Perpustakaan Perguruan Tinggi telah menerbitkan buku “Panduan pelaksanaan pendidikan pengguna di perguruan tinggi”, literatur dan informasi dari perpustakaan-perpustakaan negara maju yang mengetengahkan berbagai “issues” dan “trends” pendidikan pengguna yang berada di dekat pustakawan tentunya akan sangat membantu dalam pelaksanaan pendidikan pengguna. Dari alasan yang mendasar tadi akan menimbulkan effek terhadap pelaksanaan pendidikan pengguna, misalnya: (a) kurang atau tidak adanya “written policy statement” dari masing-masing perpustakaan; (b) kurangnya koordinasi dalam pelaksanaan pendidikan pengguna, baik antara staff perpustakaan maupun dengan staff dosen; (c) kurangnya dana dan fasilitas yang lain, hal ini karena masih adanya anggapan yang merendahkan terhadap status atau posisi pustakawan dan perpustakaan, sehingga aktivitas perpustakaan sering terbentur birokrasi yang berbelit dan sempitnya dana.
Hal lain (ii) yang dianggap sebagai benturan dalam pelaksanaan pendidikan pengguna, adalah karena kurangnya tenaga dalam arti dari segi kualitas dan kuantitasnya. Dari segi kualitas, yang diperlukan untuk mensukseskan pelaksanaan pendidikan pengguna adalah: pengalaman dan pendidikan, bisa berkomunikasi secara jelas dan efektif, mempunyai kemapuan dalam “public relations”, ramah, sabar, dewasa, mempunyai motivasi yang tinggi untuk melaksanakan tugas tersebut, dll. Dari segi kuantitas diharapkan adanya jumlah yang cukup dari pustakawan yang mempunyai kualitas tersebut di atas guna melaksanakan tugas tersebut. (iii) Kurangnya dukungan dari pustakawan dari bagian lain. Hal ini masih sering kita jumpai anggapan “tugasmu adalah tanggungjawabmu sendiri”, dan belum adanya rasa kebersamaan untuk memiliki dan menyajikan layanan perpustakaan.
E SARAN PEMECAHANNYA
Melihat beberapa kemungkinan yang dianggap sebagai kendala yang mengakibatkan kurang lancarnya pelaksanaan pendidikan pengguna, maka usulan pemecahan masalah tersebut adalah (i) menggalakkan tentang pengertian akan arti dan pentingnya pendidikan pengguna kepada seluruh staff perpustakaan. Hal ini dapat dilakukan dengan diskusi antar sejawat sendiri, adanya seminar, workshops, training dalam bidang pendidikan pengguna, pengiriman pustakawan untuk mengikuti pendidikan formal dan non-formal. Kunjungan ke perpustakaan lain yang sejenis adalah dalam upaya untuk studi banding yang tentu saja akan besar manfaatnya, dll. (ii) Dalam hal kurangnya literature dan informasi, dapat disarankan (a) setiap pustakawan yang telah menyelesaiakan pendidikannya (terutama dari luar negeri) diwajibkan membawa pulang literaturnya; (b) instansi yang berwenang menerbitkan buku-buku panduan untuk perpustakaan diharapkan terus menerbitkan edisi yang terbaru yang disesuaikan dengan tuntutan perkembangan perpustakaan; (c) adanya saling tukar menukar informasi mengenai koleksi dalam bidang pendidikan pengguna khususnya dan umumnya dalam bidang perpustakaan, sehingga dengan demikian perpustakaan lain akan bisa mengcopy. (d) Usahakan menambah koleksi dengan menyelipkan dalam proyek pembelian buku.

literasi informasi


Literasi informasi  yang digunakan di sini merupakan terjemahan kata information literacy. Sebelum ini istilah yang digunakan dalam Bahasa Indonesia adalah melek huruf, kemelekan huruf (Glosarium, 2007) namun istilah yang diterima di kalangan pustakawan adalah literasi walaupun hal tersebut menimbulkan kesulitan  manakala ingin menerjemahkan  kata literate. Kata literacy itu sendiri mengalami kesulitan manakala diterjemahkan ke bahasa lain sepertti bahasa Prancis, Jerman, Italia, Turki, dll.
Walau istilah literasi informasi mulai di AS sekitar dasawarsa 1970an, pengertian serta landasan dasarLI tidak sepenuhnya memenuhi kesepakatan di kalangan ilmuwan informasi. Seperti dikatakan Shapiro dan Hughes (1996) literasi informasi merupakan  konsep yang sering digunakan namun memiliki sifat ketaksaan (ambiguitas) yang berbahaya. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Snavely dan Cooper (1997) yang mengatakan untuk dapat diterima oleh pemakai non pustakaswan dan akademisi, pustaka iswan perlu menjelaskan definisi LI serta membedakannya dari instruksi bibliografis serta perbedaannya dari pendidikan dan pembelajaran pada umumnya. Sungguhpun demikian Owusu-Ansah (2003,2005) mengatakan bahwa adanya banyak definisi dan konsep LI tidak mencerminkan perbedaan atau ketidaksepakatan yang besar.
Istilah “information literacy” pertama kali dikemukakan oleh Paul Zurkowski yang mengatakan orang yang literat informasi adalah orang-orang yang terlatih dalam aplikasi sumberdaya dalam pekerjaanna (Behrens,1994). Setelah ittu keluar definisi LI oleh ANZIL (Australian and New Kesepakatan definisi  LI baru tercapai tahun 2005 tatkala IFLA, UNESCO dan National Forum for Information Literacy (NFIL) menaja pertemuan tingkat tinggi di Bibliotheca Alexandriana di Alexandria, Mesir. Sebagai hasil pertemuan muncullah definisi LI sebagai berikut :
Information literacy encompasses knowledge of one’s information concerns and needs, and the ability to identify, locate, evaluate, organize, and effectively create, use and communicate information to address issues or problems at hand; it is a prerequisite for  participating effectively in the Information Society,and is part of the basic human right of  life – long  learning.
Definisi tersebut yang akan digunakan dalam makalah ini sebagai landasan ke literasi informasi digital.