PERPUSTAKAAN
DAERAH LABUHANBATU UTARA
OBSERVASI
DISUSUN
OLEH :
MESTIKA
DEWI TAMBUNAN (130709029)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN
MEDAN
2013
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamin...
Puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat serta karunia Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat serta karunia Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Shalawat
berangkaikan salam juga senantiasa dihadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang
telah menuntun kita semua dari zaman kesesatan menuju zaman yang penuh dengan
ilmu pengetahuan.
Ucapan terima
kasih juga penulis ucapkan kepada ibu Himma Dewiyana dan teman teman mahasiswa
Ilmu Perpustakaan 2013 yang telah membantu dalam hal hal yang masih kurang
dimengerti oleh penulis.
Penulis juga
dengan segala kerendahan hati menerima segala kritik dan saran atas makalah
ini. Semoga makalah ini dapat memenuhi
harapan kita.
Medan, 10 Desember 2013
Penulis
i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
Kata Pengantar…………………………………………………………………… i
Daftar Isi………………………………………………………………………… ii
BAB 1
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………. 1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………. 2
1.3 Tujuan Penelitian…………………………………………………………….. 2
1.4 Ruang Lingkup Penelitian…………………………………………………… 2
BAB 2
2.1 Perpustakaan
2.1.1 Pengertian Perpustakaan………………………………………………… 3
2.1.2 Jenis – Jenis Perpustakaan……………………………………………….. 4
2.1.3 Fungsi Perpustakaan……………………………………………………… 7
2.2 Knowledge Management
2.2.1 Pengertian Knowledge
Management…….………………………………. 8
2.2.2 Manfaat Knowledge
Management…….…………………………………. 10
2.2.3 Penerapan Knowledge Management di Perpustakaan…………………….. 10
2.2.4 Penciptaan Pengetahuan…………………………………………………… 11
2.2.5 Proses Konversi Knowledge………………………………………………. 12
2.2.6 Proses Pengadaan Pengetahuan……………………………………………. 12
2.2.7 Penyaringan Pengetahuan………………………………………………….. 13
2.2.8 Penyimpanan Pengetahuan…………………………………………………. 14
ii
2.2.9 Penyebaran dan AKses Pengetahuan……………………………………….. 15
2.2.10 Pemanfaatan Pengetahuan………………………………………………… 15
BAB III
3.1 Teknik Pengumpulan
Data…………………………………………………. 17
3.2 Teknik Analisi
Data……………………………………………………….. 17
BAB IV
4.1 Sejarah Singkat……………………………………………………………. 18
4.2 Fungsi dan Tujuan…………………………………………………………. 18
4.3 Staff Perpustakaan
Daerah Labuhanbatu Utara…………………………… 19
4.4 Layanan…………………………………………………………………… 20
4.5 Komputerisasi
Data……………………………………………………….. 21
4.6 Pengadaan………………………………………………………………… 21
4.7 Proses Seleksi Bahan
Perpustakaan………………………………………. 22
4.8 Alur Bahan Perpustakaan…………………………………………………. 22
4.9 Jumlah Koleksi Buku
Berdasarkan Jenis………………………………….. 22
4.10 Struktur Organisasi………………………………………………………… 23
BAB V
5.1 Kesimpulan dan Saran
5.1.1 Kesimpulan……………………………………………………………….. 24
5.1.2 Saran……………………………………………………………………… 24
Daftar Pustaka……………………………………………………………………. 25
iii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa
ini perpustakaan sudah tidak lagi banyak di kunjungi oleh penggunanya. Hal itu
di sebabkan oleh perpustakaan tidak lagi dianggap sebagai gudang ilmu seiring
dengan maraknya internet. Banyaknya perpustakaan yang masih manual membuat para penggunanya
malas untuk mengunjunginya karena di anggap tidak menarik dan sistem kerjanya
lambat. Gedung – gedung perpustakaan di Indonesia juga hanya sebagian saja yang
layak untuk di jadikan perpustakaan.
Istilah
perpustakaan selalu terkait dengan istilah-istilah lain seperti pustaka,
pustakawan, kepustakaan dan ilmu perpustakaan. Keterkaitan istilah perpustakaan
dengan beberapa istilah di atas, ada kalanya membuat istilah perpustakaan
menjadi rancuh atau menjasi kelabu. Secara realita perpustakaan masih di pahami
sebagai sebuah bangunan fisik tenpat menyimpan buku-buku atau bahan
perpustakaan. Pengertian perpustakaan sebagai sebuah ruangan atau gedung yang
di gunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang di simpan menurut
tata susunan tertentu dan di gunakan oleh pembaca.
Saya memilih
perpustakaan daerah Labuhanbatu Utara karena saya penasaran dengan metode cara
kerjanya dan yang mana perpustakaan tersebut di pegang oleh yang bukan
pustakawan atau pustakawati. Perpustakaan tersebut baru saja di buka jadi saya
terdorong untuk melakukan observasi di perpustakaan tersebut. Setelah tamat saya juga berkeinginan untuk bekerja di
perpustakaan tersebut agar bisa menerapkan pengetahuan yang saya miliki. Karena
ada tugas Pengantar Pengorganisasian Pengetahuan tentang observasi
perpustakaan, saya memilih perpustakaan
daerah Labuhanbatu Utara agar saya mengetahui tentang perpustakaan
tersebut untuk menambah pengetahuan.
1
1.2 Rumusan Masalah
Pengenalan dan Penelitan terhadap
perpustakaan daerah kabupaten Labuhanbatu Utara sebagai proses pembelajaran
untuk menuntaskan mata kuliah penulis yaitu Pengorganisasian Pengetahuan (
Knowledge Management ). Masalah diatas menurut peneliti akan dapat di
jawab melalui pemecahan dua sub masalah di bawah ini, yaitu:
1.
Bagaimana
keadaan dan Kondisi terhadap Perpustakaan daerah Kabupaten Labuhanbatu Utara.
2.
Bagaimana Sistem Pengorganisasian yang
Diterapkan pada Perpustakaan daerah Labuhanbatu Utara.
1.3
Tujuan
Penelitian
Tujuan umum penelitian tentang perpustakaan daerah Kabupaten
Labuhanbatu Utara yang di jabarkan dalam tujuan khusus yaitu mengetahui keadaan
dan mengetahui keadaan perpustakaan daerah Labuhanbatu Utara. Sistem
Pengorganisasian yang Diterapkan pada Perpustakaan daerah Labuhanbatu Utara
yang selanjutnya sebagai pembelajaran kepada penulis untuk mengetahui keadaan
dari dunia perpustakaan yang selanjutnya dapat memperdalam pengetahuan penulis
tentang pengorganisasian di perpustakaan.
1.4
Ruang
Lingkup Penelitian
Penelitian ini mengenai studi
tentang keadaan dan kondisi serta sisem pengorganisasian pengetahuan yang
berada di dalam Perpustakaan. Fokus penelitian ini hanya sebatas Perpustakaan
daerah Labuhanbatu Utara sebagai objek dari penelitian ini.
2
BAB
II
KAJIAN
TEORITIS
2.1
Perpustakaan
2.1.1
Pengertian Perpustakaan
Secara
etimologis, istilah “Perpustakaan” berasal dari kata pustaka artinya kitab
atau buku. Dalam bahasa Inggris istilahnya disebut library yang
dibangun dari kata Latin liber atau libri yang artinya juga
adalah buku.
Perpustakaan adalah badan atau
organisasi nirlaba (non-profit), sedangkan toko buku merupakan organisasi yang
selalu mencari laba (profit). Orientasi kegiatan perpustakaan adalah pada
layanan jasa (service oriented), bukan kepada laba.
Lebih
jauh Reitz mendeffenisikan perpustakaan sebagai berikut: A collection or group of collections of books and/or other materials
rganized and maindtained for use reading, consultation, study, research, are
staffed by librarians and other personel trained to provide services to meet
user needs. Defenisi ini mudah dimengerti, perpustakaan adalah koleksi atau
sekumpulan koleksi buku atau bahan lainnya yang diorganisasikan dan dipelihara
untuk pengunaan/keperluan (membaca, konsultasi, belajar, meneliti), dikelola
oleh pustakawan dan staff terltih lainnya dalam rangka menyediakan layanan
untuk memenuhi kebutuhan pengguna.
Dalam
UUD No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustaaan Bab 1 Pasal 1 dinyatakan bahwa
Perpustakaan adalah instusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau
karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan
pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.
Inteernasional Federation of Library
Assosiations and Instituitions (IFLA) mendefenisikkan perpustakaan dengan
pengertian yang sabat sederhana yaitu kumpulan bahan cetak dan non cetak
dan/atau sumber nformasi dalam kamputer yang disusun secara sistematis untuk
kepentingan pemakai. Definisi IFLA ini mencakup tiga hal yaitu unsur koleksi (buku
dan terbitan cetak dan non cetak), disimpan menurut sistem tertentu saja, untuk
3
kepentingan
pemakai.
Untuk menyatakan sesuatu kumpulan
koleksi atau institusi sebagai perpustakaan atau tidak, minimal dapat melihat 3
(tiga) aspek yaitu adanya bahan
perpustakaan (library materials), adanya proses penyimpanan yang mengacu kepada
suatu sistem, dan memberikan layanan kepada pengguna. Jurusan Ilmu Perpustakaan
Univesitas Indonesia pernah mendefinisikan Ilmu Perpustakaan sebagai ilmu yang
mempelajari rekaman informasi, cara memperoleh, mencatat, menyimpan dan
menemukannya kembali untuk diayagunakan. Definisi ini lebih terbuka menyatakan
bahwa ilmu perpustakaan sebagai ilmu dan profesi yang mempelajari rekaman
informasi yang keberadaanya tidak hanya di suatu perpustakaan, boleh pada
lembaga arsip, dokumentasi, clearing house, pusat referal dan lembaga
pengelola informasi lainnya. Akan tetapi setelah melihat dan mengalami
pengaplikasian teknologi informasi dalam pengelolaan perpustakaan, sehingga
konsep objek ilmu perpustakaan tidak terbatas pada perpustakaan melainkan
kepada informasi yang terkam.
2.1.2
Jenis-Jenis
Perpustakaan
Terjadinya berbagai jenis perpustakaan
diakibatkan oleh faktor atau kriteria yaitu koleksi atau bahan perpustakaan,
masyarakat pengguna dan isntitusi atau lembaga tempatnya bernaung. Akan tetapi
faktor koleksi dan pengguna mungkin yang lebih dominan. Pertumbuhan Berbagai Jenis Bahan Perpustakaan. Pertumbuhan Ilmu
Pengetahuan Sangat Pesat . Kebutuhan
Informasi Pengguna yang Berbeda-beda
Meliahat
kegiatan perpustakaan sehari-hari, diketahui adanya Perpustakaan Umum,
Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus.
a. Perpustakaan
Umum
Perpustakaan Umum (public library)
menurut Reitz (2004) adalah “A library or library system that provides
unrestricted access to library resources and services free of charge to all the
resident of a given community, district, or geographic region, supported wholly
or in part by publics funds”. Perpustakaan Umum adalah sebuah perpustakaan atau
sistem perpustakaan yang menyediakan akses yang tidak terbatas kepada
sumberdaya perpustakaan dan layanan
4
gratis
kepada warga masyarakat di daerah atau wilayah tertentu, yang didukung penuh
atau sebahagian dari dana masyarakat (pajak). Menyimak definisi di atas,
Perpustakaan Umum memiliki tugas yang sangat luas dalam hal penyediaan akses
informasi kepada masyarakat.
Pada tahun 1972 Unesco mengeluarkan
Manifesto Perpustakaan Umum yang menyatakan bahwa perpustakaan umum harus
terbuka bagi semua orang tanpa membeda-bedakn warna kulit, jenis kelamin, usia,
kepercayaan, ras. Ada 4 butir isi Manifesto
(a) Memberikan kesempatan bagi umum
untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka kea rah
kehidupan yang lebih baik.
(b) Menyediakan sumber informasi yang
cepat, tepat dan murah bagi masyarakat, terutama informasi mengenai topic yang
berguna bagi mereka dan yang sedang hangat dalam kalangan masyarakat.
(c) Membantu warga untuk mengembangkan
kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi
masyarakat Sekitarnya, sejauh kemampuan tersebut dapat dikembangkan dengan
bantuan bahan pustaka.
(d) Bertindak selaku agen cultural,
artinya perpustakaan umum merupakan pusat utama kehidupan budaya bagi
masyarakat sekitarnya.
Untuk menggolongkan suatu perpustakaan termasuk ke dalam jenis
perpustakaan umum, setidak-tidaknya melihat empat unsur sebagai kriteria yaitu:
(a) Koleksi perpustakaan umum harus
terbuka bagi semua warga untuk keperluan rujukan maupun untuk peminjaman.
(b) Seluruh atau sebahagian besar
anggaran perpustakaan umum diperoleh dari dana masyarakat umum, baik dari
tingkat lokal maupun nasional. Dana masyarakat umum yang dimaksud adalah
diperoleh dari pajak.
(c) Jasa pelayanan yang diberikan kepada
semua warga adalah cuma-Cuma atau gratis
(d) Koleksinya mencakup semua jenis
bahan perpustakaan bagi semua warga dan dalam semua subjek atau topik.
5
b.
Perpustakaan Sekolah
Dalam pengertian yang sederhana
perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang dikelola serta terdapat disekolah
dengan tujuan membantu sekolah untuk mencapai tujuannya.
Menurut Reitz (2004)
mendefenisikan Perpustakaan Sekolah (school library), A library in a public or private elemantary or secondary school that
serves the information needs of its students and curriculum needs of its
teachers and staff, usually managed by a school librarian or media specislist.
A school collection usually contains book, periodical, and educational media
suitable for the garde levels served. Defenisi diatas menyatakan bahwa
Perpustakaan Sekolah adalah suatu perpustakaan yang berada pada jenjang sekolah
dasar sampai dengan sekolah lanjutan baik milik pemerintah (negeri) maupun
swastayang melayani kebutuhan informasi siswanya, kebutuhan kurikulumdari guru
dan staf; biasanya dkeloal oleh pustakawan sekolah ataupun spesialis media.
Perpustakaan Sekolah adalah suatu perpustakaan yang berada pada jenjang sekolah
dasar sampai dengan sekolah lanjutan baik milik pemerintah (negeri) maupun
swasta yang melayani kebutuhan informasi siswanya, kebutuhan kurikulum dari
guru dan staf; biasanya dikelola oleh
pustakawan sekolah ataupun spesialis media.
c. Perpustakaan
Perguruan Tinggi
Secara sedarhana perpustakaan perguruan
tinggi adalah perpustakaan ang dikelola oleh perguruan tinggi dengan tujuaan
membantu tercapainya tujuan perguruan tinggi.
Reitz (2004) mendefenisikan Perpustakaan
Perguruan Tinggi sebagai berikut, A
library or library system established, administered, and funden by a university
to meet te information, ressearch, and curiculum needs of its students,
faculty, and staff. Defenisi ini menyatakan bahwa perpustakaan perguruan
tinggi adalah sebuah perpustakaan atau sistem perpustakaan yang dibangun,
diadministrasikan dan didanai oleh sebuah universitas untuk memenuhi kebutuhan
informasi, penelitian dan kurikulum dari mahasiswa, fakultas dan stafnya.
d. Perpustakaan
Khusus
Perpustakaan khusus adalah perpustaaan
yang diselenggarakan oleh lembaga atau instansi negara, pemerintah, pemerintah
negara ataupun lembaga atau institusi swasta yang layanannya diperuntukkan bagi
pengguna di linkungan lembaga atau instansi yang
6
bersangkutan.
Menurut Reitz (2004) menyatakan bahwa Perpustakaan Khusus (special
librar), A library established and funden
by a commercial firm, private association, goverment agency, nonprofit
organization’s mission and goals. The scope of collection is usually limited to
the interest of its host organization. Defenisi ini menyatakan bahwa
perpustakaan khusus aadalah suatu perpustakaan yang dibangn dan didanai oleh
suatu perusahaan komersial, asosiasi masyarakat, badan pemerintah, organisasi
nirlaba atau kelompok interes khusus dalam rangka memenuhi atau menciptakan
misi dan tujuan organisasi tersebut.
Perpustakaan Nasional mendefinisikan
perpustakaan perguruan tinggi sebagai perpustakaan yang diselenggarakan oleh
satuan pendidikan tinggi yang layanannya diperuntukkan sivitas akademika
perguruan tinggi yang bersangkutan
Tujuan perpustakaan perguruan tinggi di
Indonesia adalah untuk memberikan layanan informasi untuk kegiatan belajar,
penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka melaksanakan Tri Dharma
Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, koleksi perpustakaan perguruan tinggi
benar-benar diarahkan untuk mendukung pencapaian tujuan dan pelaksanaan Tri
Dahrma itu.
Perpustakaan khusus adalah perpustakaan
yang diselenggarakan oleh lembaga atau instansi negara, pemerintah, pemerintah
daerah, ataupun lembaga dan/atu institusi swasta yang layanannya diperuntukkan
bagi pengguna di lingkungan lembaga dan/atau instansi yang bersangkutan.
e.
Perpustakaan Khusus
Perpustakaan khusus adalah suatu
perpustakaan yang dibangun dan didanai oleh suatu perusahaan komersial,
assosiasi swasta, badan pemerintah, organisasi nirlaba atau kelompok interes
khusus dalam rangkan memenuhi atau mencapai misi dan tujuan organisasi
tersebut.
2.1.3
Fungsi Perpustakaan
Fungsi perpustakaan selalu dkaitkan
dengan jenis perpustakaan dan misi yang diembannya. Maka setiap perpustakaan
memiliki fungsi yang berbeda.
7
Secara
umum fungsi perpustakaan yaitu:
1.
Penyimpanan
Tugas pokok perpustakaan adalah
menyimpan bahan perpustakaan yang diterimanya tugas inilah yang menyebabkan
perpustakaan selalu disebut dengan istilah document
storage.
2.
Pendidikan
Perpustakaan adalah tempat belajar
seumur hidup terlebih-lebih kepada mereka yang sudah bekerja atau telah
meninggalkan bangku sekolah ataupun putus sekolah.
3.
Penelitian
Perpustakaan bertugas menyediakan
bahan perpustakaan ( penyedia materi) untuk keperluan penelitian.
4.
Informasi
Informasi sudah merupakan
pengolahan data perpustakaan yang disediakan dengan data pemakai.
5.
Kultural
Perpustakaan bertugas menyimpan
khasanah budaya bangsa khususnya berupa media yang merekam informasi, naskah,
manuskrip dan/atau dokumen lainnya.
Sedangkan menurut Wardita (1998) perpustakaan memiliki sejumlah
fungsi yaitu:
1.
Fungsi edukatif
2.
Fungsi informasi
3.
Fungsi tanggung jawab administrasi
4.
Fungsi rekreasi
5.
Fungs riset
2.2
Knowledge Managament ( Pengorganisasian Pengetahuan )
2.2.1 Pengertian Knowledge Management ( Pengorganisasian Pengetahuan )
Ahli teknologi
informasi seperti pengembang software, programmer, dan teknologi serupa,
menitikberatkan pada hardware, software, network dan telekomunikasi.
Demikian juga ahli pendidikan, memiliki persepsi dan definisi sendiri tentang knowledge
management.
Meskipun knowledge management didefinisikan dan
diterapkan dalam berbagai lapangan yang berbeda, namun secara umum dapat
ditarik pengertian bahwa knowledge management
8
menekankan:
§ adanya usaha yang serius untuk meningkatkan sistem
kognisi (organisasi, manusia, komputer, atau gabungan manusia dan sistem
komputer);
§ adanya aset-aset pengetahuan yang dikelola, yang berasal
dari dalam dan luar organisasi, individu atau kelompok;
§ adanya proses pengadaan, pengolahan, penyimpanan, dan
penggunaan pengetahuan tersebut untuk mencapai tujuan tertentu;
§ adanya penyebaran pengetahuan dan pengalaman baik melalui
akses langsung ke database maupun melalui sharing dan kolaborasi
ke lingkungan internal dan eksternal organisasi,
§ adanya kreativitas dan inovasi menciptakan pengetahuan
baru.
Pengetahuan (knowledge)
sendiri memiliki pengertian yang ambiguitas (tidak jelas). Tidak ada
kesepakatan tentang apa pengetahuan itu. Ada ilmuwan yang menyamakan
pengetahuan dengan informasi, ada pula yang membedakannya.
Wenig (1996)
memberi definisi pengetahuan sebagai pemahaman terhadap proses sistem kognitif.
Pengetahuan merupakan justified true believe (membenarkan kebenaran atas
kepercayaannya). Pengetahuan merupakan sesuatu yang eksplitsit (terang, nyata
tegas sekaligus terbatinkan (tacit). Penciptaan pengetahuan secara
efektif bergantung pada konteks yang memungkinkan terjadinya penciptaan
tersebut
Penciptaan pengetahuan melibatkan lima
langkah utama: berbagi tacit, menciptakan konsep, membenarkan konsep,
membangun prototype, dan melakukan penyebaran pengetahuan di berbagai fungsi
dan tingkat si
Struktur bidang pengetahuan sebagai
pengantar kepada klasifikasi perpustakaan (prolegmena to library
classifcation) dapat dibagi atas :
§ Decachotomy
(decimal classification)
9
-
Polychotomy (expansive
classification yang dibuat oleh Charles A. Cutter)
§ Proliferation
(perkembangbiakan
–kompleks subyeks)
§ Unlimited
proliferation
2.2.2 Manfaat Knowledge Management
Menurut Frappaolo dan Toms (2000), fungsi aplikasi knowledge
management dalam suatu organisasi ada lima, yaitu:
1.
Intermediation: yaitu peran perantara transfer pengetahuan antara
penyedia dan pencari pengetahuan. Peran tersebut untuk mencocokkan (to match)
kebutuhan pencari pengetahuan dengan sumber pengetahuan secara optimal. Dengan
demikian, intermediation menjamin transfer pengetahuan berjalan lebih
efisien.
2.
Externalization: yaitu transfer pengetahuan dari pikiran pemiliknya ke
tempat penyimpanan (repository) eksternal, dengan cara seefisien mungkin. Externalization
dengan demikian adalah menyediakan
3.
Internalization: adalah “pengambilan” (extraction) pengetahuan
dari tempat penyimpanan eksternal, dan menyaringan pengetahuan tersebut untuk
disediakan bagi pencari yang relevan. Pengetahuan harus disajikan bagi pengguna
dalam bentuk yang lebih cocok dengan pemahamannya. Maka,
fungsi ini mencakup interpretasi format ulang penyajian pengetahuan.
4.
Cognition
adalah fungsi suatu sistem untuk membuat keputusan yang didasarkan atas
ketersediaan pengetahuan. Cognition merupakan penerapan pengetahuan yang telah berubah
melalui tiga fungsi terdahulu.
5.
Measurement,
yaitu kegiatan knowledge management untuk mengukur memetakan dan
mengkuantifikasi pengetahuan korporat dan performance dari solusi knowledge
management. Fungsi ini
mendukung empat fungsi lainnya, untuk mengelola pengetahuan itu sendiri.
2.2.3
Penerapan Knowledge Management di Perpustakaan
Ada tiga aspek yang berkaitan dengan penerapan knowledge
management di
10
organisasi, sbb:
•
People aspects,
yaitu terdiri dari pendidikan, pengembangan, rekrutmen, motivasi, organisasi,
uraian pekerjaan, perubahan budaya organisasi, dan mendorong adanya
pengembangan pemikiran, kerjasama dan partisipasi seluruh karyawan (share
knowledge to creating value through social interaction).
•
Process aspects,
yaitu terdiri dari proses inovasi, continues improvement, dan perubahan
radikal seperti reengineering.
•
Technology aspects,
yaitu terdiri dari informasi dan decision support system, knowledge based
system, dan data mining system.
2.2.4 Penciptaan
Pengetahuan
Davenport (1998: 52-67) menyebutkan ada
5 metode lain yang dapat digunakan untuk menciptakan knowledge dalam
perusahaan (five modes of knowledge generation) yaitu sebagai berikut:
1. Acquisition,
yaitu menyewa, membeli, atau merekrut orang atau perusahaan yang telah memiliki
intangible assets sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Intangible assets tersebut diharapkan dapat memberikan skill dan
pengalaman mereka untuk dikembangkan dalam perusahaan. Menyewa
konsultan termasuk salah satunya.
2. Dedicated resources,
yaitu menciptakan suatu unit kerja tertentu yang bertanggung jawab terhadap
pengembangan pemikiran/ide-ide baru. Pembentukan atau pengembangan divisi
sumber daya manusia adalah salah satu contoh.
3. Fusion,
yaitu membangun kerjasama tim (teamwork) yang terdiri dari berbagai
orang dari latar belakang/perspektif keahlian yang berbeda-beda untuk
menciptakan sinergi.
4. Adaptation, yaitu melakukan penyesuaian terhadap perkembangan
pasar. Untuk hal ini sangat dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu menyerap
dan memanfaatkan new knowledge dan skill secara cepat.
11
5. Networks, yaitu knowledge yang dihasilkan dari
pembentukan tim non struktural dan tim informal yang dibentuk sendiri oleh
pegawai berdasarkan minat tertentu. Jika tim-tim ini semakin meluas dalam
perusahaan maka network akan terbentuk. Networks
dapat
pula dibentuk melalui pembicaraan langsung, lewat telepon, lewat e-mail,
dan groupware untuk saling share expertise dan solve problem bersama-sama.
2.2.5
Proses Konversi Knowledge
Empat proses konversi knowledge (lihat
Nonaka, 1995 : 62-70)
1.
Socialization adalah
konversi dari tacit knowledge ke tacit knowledge. Proses mentransfer pengalaman untuk menciptakan tacit
knowledge melalui aktivitas pengamatan, imitasi, dan praktek. Misalnya
terjadi ketika seorang individu berbagi tacit knowledge secara langsung
dengan orang lain, seperti melalui diskusi, seminar, percakapan dan sebagainya.
Proses ini tidak cukup hanya dilakukan dengan mendengarkan dan berpikir.
2. Externalization
adalah
konversi dari tacit knowledge ke explicit knowledge. Proses mengungkapkan
dan menterjemahkan tacit knowledge ke dalam konsep yang eksplisit
seperti buku, manual, laporan, dan sebagainya.
3. Combination
adalah
konversi dari explicit knowledge ke explicit knowledge. Proses mengkombinasikan explicit
knowledge yang berbeda menjadi explicit knowledge yang baru melalui
analisis, pengelompokan, dan penyusunan kembali. Alat untuk melakukan proses
ini misalnya database dan computer network.
4.
Internalization adalah
konversi dari explicit knowledge ke tacit knowledge. Proses penyerapan explicit knowledge, terjadi
ketika explicit knowledge dimanfaatkan bersama (sharing) melalui
organisasi dan jaringan informasi untuk memperluas mengkerangkakan kembali (reframe)
dan mengembangkan tacit knowledge-nya. Biasanya dilakukan melalui belajar sambil bekerja atau
melakukan simulasi (lihat Kirk, 1999; Malhotra, 1997; Malhotra, 2000).
2.2.6 Proses Pengadaan
Pengetahuan
1. Pengadaan pengetahuan merupakan langkah mengumpulkan
aset-aset pengetahuan yang dihasilkan oleh proses penciptaan pengetahuan.
Pengetahuan tidak hanya dapat diraih dari buku manual atau literatur, tetapi
pengetahuan juga dapat diraih dengan metafora, intuisi, 12
dan pengalaman.
2.
Peran
perpustakaan pada tahap ini adalah menciptakan penyimpanan pengetahuan (create
knowledge repositories) yang terintegrasi dengan sistem perpustakaan,
misalnya: database buku, jurnal dan lain-lain.
3.
Pengadaan
pengetahuan lazim juga disebut juga dengan perekaman pengetahuan (knowledge
capture). Proses knowledge capture memerlukan kemampuan penyimpanan
dan kode yang terprogram untuk menyimpan modal pengetahuan dalam bentuk
terbacakan mesin.
4.
Kegiatan
dalam proses ini misalnya: untuk tacit melalui wawancara, brainstroming,
konsultasi, dll.; untuk explicit dengan pembelian buku, download,
fotokopi, dll.
2.2.7 Penyaringan
Pengetahuan
1.
Dalam
praktiknya pengetahuan diperoleh melalui suatu seleksi atau proses penyaringan
(filtering process). Proses ini berguna untuk mempertimbangkan mana
informasi yang tepat untuk digunakan dan mana yang harus diabaikan. Keputusan
untuk meneriman atau menolak sangat bergantung pada persepsi atau relevansi
informasi dalam konteks kedekatan (immediate context). Elemen dasar
seperti proses yang digambarkan berikut, menunjukkan bahwa seseorang harus
memutuskan informasi mana yang akan diambil untuk menambah tempat penyimpanan
pengetahuannya.
2.
Faktor
utama yang menentukan mana informasi yang akan dinilai, adalah relevansi
informasi bagi penerima. Relevansi juga berarti bahwa seseorang akan lebih
memperhatikan ke informasi yang berhubungan dengan minatnya atau kepada problem
yang sedang dihadapi.
3.
Kegiatan ini lebih dekat kepada
pengolahan explicit knowledge, atau knowledge yang telah terekam.
Di tingkat organisasi misalnya
seperti perpustakaan dikenal dengan istilah klasifikasi, yaitu kegiatan yang
berhubungan dengan representasi pengetahuan yaitu penomoran bahan pustaka.
Pemberian nomor berdasarkan klasifikasi desimal DDC
13
4.
untuk
koleksi berbentuk hardcopy. Sedang dalam lingkungan internet (web resource
description and discovery), untuk koleksi berbentuk digital digunakan
standar metadata Dublin Core.
5.
Metadata
adalah data yang terstruktur, dilengkapi dengan kode, mendeskripsikan ciri-ciri
satuan-satuan pembawa informasi, dan membantu identifikasi, penemuan,
penilaian, dan pengelolaan satuan pembawa informasi tersebut (Aditirto, 2001:
10).
Sistem Organisasi Pengetahuan atau Knowledge Organization
Systems (KOSs) untuk perpustakaan digital dapat
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
▫
Daftar
istilah (term list), yang menekankan pada daftar istilah bahkan dengan
definisinya. Kelompok ini terdiri dari authority files,
glossary, kamus dan gazetteer.
▫
Klasifikasi
dan kategori-kategori (classification and categories), yang menekankan
pada pembuatan seperangkat subyek, yang terdiri dari tajuk subyek, bagan
klasifikasi, taksonomi, dan bagan kategori.
▫
Daftar
antar-hubungan (relationship list), yang menekankan pada hubungan antar
istilah-istilah dan konsep-konsep yang terdiri atas thesaurus, semantic
network dan ontologis.
Sistem organisasi pengetahuan ini digunakan untuk
organisasi materi dan tujuan mengelola koleksi dan sistem temu kembali. Sistem
bertindak sebagai jembatan antara kebutuhan informasi pemakai dengan materi
dalam koleksi.
Untuk kegiatan dalam organisasi misal seperti
perpustakaan rules yang digunakan dalam proses ini telah berbentuk
tertulis. Misalnya: Standar klasifikasi desimal (DDC), Dublin Core, KOSs, dll.
Namun jika kegiatan tersebut dilakukan oleh agen, rules tergantung pada
bagaimana ia mengorganisasi pengetahuan yang ia miliki. Misal: dengan membuat
struktur kategori folder di komputer berdasarkan bidang-bidang tertentu, dll.
2.2.8
Penyimpanan Pengetahuan
Kegiatan
pengorganisasian selalu diikuti dengan kegiatan penyimpanan. Jika kegiatan
dilakukan di tingkat organisasi, pengetahuan disimpan dalam penyimpanan
pengetahuan (knowledge repository) misalnya: server, yang dapat diakses
secara kolektif untuk
14
pemanfaatan
bersama. Adanya knowledge repository ini dan ketersediaan data di
dalamnya
merupakan prasyarat terjadinya pertukaran dan
penggabungan pengetahuan yang memungkinkan terciptanya pengetahuan baru.
Teknologi
informasi yang dapat digunakan dalam proses ini adalah Relational Database
Management System (RDBMS), misalnya: database katalog seperti OPAC,
WEBPAC dll.
Untuk tingkat
individu biasanya proses ini dilakukan sendiri-sendiri dan tergantung pada
individu yang melakukan proses. Biasanya pengetahuan disimpan dalam penyimpanan
milik pribadi, misalnya harddisk komputer kerja atau komputer sendiri,
USB dan disket.
2.2.9
Penyebaran dan Akses Pengetahuan
Penyebaran
pengetahuan bisa dilakukan dengan meningkatkan akses (improve knowledge
access) dan transfer pengetahuan organisasi, seperti melalui penciptaan
jaringan pakar (expert networks) di mana individu dengan keahlian yang
diharapkan, terorganisasi secara formal dalam suatu jaringan dan melakukan
kontak satu sama lain, menggalang komunitas dengan minat yang sama (creating
a community of interest).
Strategi
penyebaran pengetahuan dapat berdasarkan permintaan pemakai misalnya untuk
akses secara langsung dan cepat terhadap sumber-sumber pengetahuan, dan
kapasitas teknologi untuk menyebarkan informasi secara simultan dan murah. Hal
tersebut dimungkinkan oleh kecanggihan dan keterjangkauan situs Internet
sebagai jalan raya informasi global, yang terbuka untuk semua orang dengan
sarana komputer, modem dan telepon (lihat Fahmi, 2001)
2.2.10
Pemanfaatan Pengetahuan
Pemanfaatan
pengetahuan explicit (dengan cara akses dan sharing) dan tacit
(dengan cara dialog dan learning) akan melahirkan ide-ide baru yang
menjadi awal terciptanya pengetahuan baru. Proses ini terjadi, hanya
dimungkinkan terbukanya akses ke sumberdaya pengetahuan kolektif.
15
•
Akses pengetahuan adalah suatu proses
pengambilan (extraction) pengetahuan dari knowledge repository.
•
Beberapa hal yang berkaitan dengan akses
adalah: keanggotaan (membership),
ketersediaan data (misal: full teks, abstrak, dll.), dan layanan yang
bersifat terbuka untuk siapa saja. Teknologi yang dibutuhkan dalam proses ini
adalah teknologi untuk knowledge sharing.
•
Dengan
mengelola knowledge, maka pustakawan akan semakin kreatif dan inovatif
sehinggga kemampuannya dalam menghasilkan produk atau melakukan pelayanan
meningkat.
16
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Teknik
Pengumpulan Data
Untuk
mengetahui keadaan dan kondsi serta system perpustakaan maka dilakukan
observasi untuk mengetahui gambaran tentang perpustakaan yang akan diteliti.
Peneliti melakukan observasi di salah satu perpustakaan sekolah dengan
langkah-langkah yang ditempuh untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan
dalam bentuk wawancara langsung kepada kepala dan/atau staf pepustakaan
tersebut.
Berbagai
pertanyaan diajukan untuk mengetahui
gambaran umum sistem perpustakaan
yang di terapkan di Perpustakaan daerah Labuhanbatu Utara. Mengetahui
keadaan dan kondisi perpustakaan dilakukan pengamatan langsung kepada objek
yang diamati salah satunya gedung. Wawancara terutama meminjaman data
perpustakaan yang berkaitan dengan penelitian ini untuk selanjutnya dianalisis
dan diambil kesimpulan serta informasi yang sesuai.
3.2 Teknik
Analisis Data
Data
yang berupa kalimat-kalimat yang dikumpulkan melalui observasi dengan
memberikan pertanyaan, wawancara sebagian mengumpulkan data berupa database diolah dan di analisis supaya
menghasilkan kesimpulan yang valid.
Peneliti
menggunakan tiga komponen pokok dalam tahap analisis, yaitu dengan pertanyaan,
pengamatan dan penguraian data. Pertanyaan merupakan proses memfokusan untuk mendapatkan sistem yang ada
dalam perpustakaan. Proses pemfokusan
ini bagian dari analisis yang mempertegas, memperjelas untuk tahap pengamatan.
Proses ini berlangsung sepanjang pelaksanaan penelitian dan saat pengumpulan
data, setelah data yang dikumpulkan lebih fokus kepada system dan kondisi.
Selanjutnya pada tahap pengamatan dan penguraian data peneliti menjabarkan
permasalahan sehingga kesimpulan akhir dapat diperoleh.
17
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 SEJARAH SINGKAT
Perpustakaan
daerah Labuhanbatu Utara berdiri pada
tahun yang sama dengan pemekaran kabupaten Labuhanbatu Utara yaitu pada tahun
2009 . Perpustakaan daerah Labuhanbatu utara beralamat di Jl. Jendral Sudirman
Kec. Kualuh Hulu, layanan perpustakaan daerah ini dilaksanakan di dalam satu ruangan tepatnya disamping kantor
pemadam Kebakaran.
Perpustakaan
daerah ini di bangun untuk memenuhi kriteria kabupaten, sehingga di bangunlah perpustakaan
daerah.
GEDUNG PERPUSTAKAAN
Gedung
perpustakaan terdiri dari 1 lantai,dengan
luas bangunan kira-kira 240 m3, dengan perincian Panjang 10 m Lebar 6 m dan Tinggi 4 m yang terdiri dari beberapa tempat
yaitu:
-
Tempat Referensi
-
Tempat Baca
-
Tempat Pimpinan
-
Tempat Sirkulasi Umum
-
Tempat Koleksi Umum
-
Tempat Tandon
-
Tempat Pengolahan
4.2 FUNGSI DAN TUJUAN :
1. Fungsi
:
-
Edukasi atau pendidikan; sebagai sumber
dan tempat belajar
-
Informasi; mencari dan menyebarkan
informasi
-
Rekreasi;menyediakan tempat yang aman
dan nyaman sehingga mempunyai daya tarik bagi para pengunjung
18
-
Publikasi; menyebarluaskan berbagai
informasi dari berbagai sumber
-
Penerangan.
-
Dokumentasi
-
Inspirasi
-
Sumber kebudayaan
2.Tujuan
Perpustakaan ini mempunyai tujuan utama yaitu menujang
pelaksanaan program pendidikan. diantaranya:
-
Memenuhi keperluan informasi
-
Menimbulkan minat baca siswa
-
Memperluas pengetahuan siswa
-
Membantu pengembangan budaya dan daya
fikir siswa
-
Menyediakan bahan pustaka
-
Menyediakan tempat belajar
4.3 STAF PERPUSTAKAAN DAERAH
LABUHANBATU UTARA
Staf perpustakaan daerah Labuhanbatu
Utara saat ini berjumlah 8 orang dengan pembagian tugas sebagai berikut:
Dilakukan pembagian
tugas untuk mengorganisasikan bahan perpustakaan. Setiap pustakawan melakukan kegiatan bagian tugas
diperpustakaan yang meliputi pengadaan sampai Peminjaman.
19
|
NO
|
NAMA
|
JABATAN
|
|
1
|
Baharuddin
Munthe
|
Kepala
Kantor
|
|
2
|
Ridnawati
|
Kasubag
Tata Usaha
|
|
3
|
Halimatus
Sakdiah
|
Kepala
Seksi Perpustakaan dan Deposit
|
|
4
|
Rio
Risman Berry
|
Kepala
Seksi Kearsipan Dokumen
|
|
5
|
Ismail
|
Staf
|
|
6
|
Junaidi
Hamzah
|
Staf
|
|
7
|
Juliadi
Pohan
|
Staf
|
|
8
|
Nenny
Marliana Mariana Sitinjak
|
Staf
|
4.4 LAYANAN
a. Jenis
Layanan Perpustakaan Perpustakaan daerah Labuhanbatu Utara menyediakan beberapa
jenis layanan diantaranya :
-
Koleksi Umum ; menyediakan buku-buku
yang bisa di pinjam dan dibawa pulang .
-
Koleksi referensi ;menyediakan buku-buku
yang hanya boleh di baca di tempat(ensiklopedi,kamus ,himpunan
perundang-undangan)
-
Koleksi Tandon ;menyediakan buku-buku
sebagai koleksi cadangan perpustakaan.
b. Sistem
Pelayanan
-
Perpustakaan daerah Labuhanbatu Utara
menggunakan system pelayanan terbuka,sehingga setiap pengguna dapat dengan
bebas mencari sendiri bahan pustaka yang dibutuhkannya
-
Untuk mempermudah pengguna untuk
menemukan bahan pustaka, perpustakaan menyediakan pusat informasi data dengan
menggunakan OPAC tetapi hanya dua unit computer,sehingga masih staff
perpustakaannya yang menjalankannya.
c. Peminjaman
Bahan Pustaka :
-
Masyarakat dan siswa – siswi boleh meminjam bahan pustaka sebanyak dua buku
dengan dua judul dalam sekali transaksi. lama peminjaman dua minggu dan boleh
diperpanjang lagi selama dua minggu.
20
d. Jam
layanan:
-
Perpustakaan buka hari senin s/d jumat,
pukul 08.30 s/d 16.00 Wib
-
Jam layanan: pukul 08.00-12.00,
istirahat 12.00-13.00, dibuka kembali 13.00-16.00 Wib
4.5 KOMPUTERISASI DATA:
Perpustakaan
daerah Labuhanbatu Utara sekiranya telah
menggunakan komputerisasi data bahan perpustakaan.Tetapi hanya 2 unit komputer
dan belum semua di masukkan datanya sehingga masih menggukan catatan manual .
4.6 PENGADAAN
Pengadaan bahan pustaka di Perpustakaan daerah
Labuhanbatu Utara dilakukan melalui:
1. Pembelian
:
-
Mengajukan pembelian buku.
Periode
pembelian satu kali dalam setahun tepatnya untuk memenuhi buku pinjaman.
2. Hadiah
Pengadaan bahan pustaka dari hadiah di
perpustakaan jarang ada
3. Bantuan
Bantuan dari Dinas Pendidikan,
Departemen Agama, PLN dan DPRD.
4. Tukar
menukar bahan pustaka
Tukar
menukar bahan pustaka di perpustakaan belum pernah dilakukan
5. Titipan
Titipan bahan pustaka
di perpustakaan ini tidak pernah ada.
21
4.7 PROSES SELEKSI BAHAN PUSTAKA
Proses seleksi bahan pustaka di perpustakaan ini ,
hanya menggunakan analisis kebutuhan
pengguna, dan tidak melakukan analisis pasar. Pihak perpustakaan hanya
memberikan
anggaran kepata
penerbit, selebihnya buku yang akan di beli, tergantung pada penerbit yang
memenangkan tender.
Alat bantu yang
digunakan dalam proses seleksi
menggunakan data secara manual.
4.8 ALUR BAHAN PUSTAKA
Bahan pustaka yang
masuk ke Perpustakaan SMK N 1 Padangsidimpuan, hingga didistribusikan kepada
pengguna melalui beberapa tahap yaitu:
1.
Buku masuk ke bagian pengadaan:
-
Dicek kesesuaiannya dengan pemesanan
-
Di inventarisasi (pemberian No.Induk)
2.
Buku diserahkan kepada pengolahan:
-
Diolah (pembuatan No.Kelas) berdasarkan
DDC
-
Menempelkan label
-
Menempelkan kantong lidah, dan due slip
-
Menyampul buku
-
Buku masukan ke ruang koleksi (dilakukan
secara bersama-sama)
-
4.9 JUMLAH KOLEKSI BERDASARKAN JENIS
|
NO
|
JENIS
KOLEKSI
|
ANGGARAN
|
||
|
|
12/13
|
|||
|
JUDUL
|
EKSEMPLAR
|
|||
|
1
|
Buku
|
1.047
|
3.651
|
|
|
2
|
Majalah
Langganan
|
1
perminggu
|
1
perminggu
|
|
22
4.10 STUKTUR ORGANISASI
STRUKTUR
ORGANISASI
PERPUSTAKAAN
|
STAF
|
|
KATAGOLISASI
|
|
SIRKULASI
|
|
REFERENSI
|
|
SERIAL
|
|
TANDON
|
|
KEPALA SEKSI KEARSIPAN
DOKUMENTASI
|
|
KEPALA SEKSI
PERPUSTAKAAN DAN DEPOSIT
|
|
KASUBAB TATA
USAHA PPERPERPEUYYYTPERPERPUSTAKAAN
|
|
KEPALA KANTOR
|
23
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.1 KESIMPULAN
Perpustakan
daerah Labuhanbatu Utara merupakan perpustakaan yang mengikuti aturan dan
pengklasifikasian menurut DDC. Perpustkaan ini mempunyai prioritas utama yaitu
membantu meningkatkan mutu pendidikan di daerah Kab. Labuhanbatu Utara.
Peningkatan mutu perpustakaan terus dilakukan salah satunya dengan Study
Banding untuk mempelajari pengorganisasian pengetahuan yang ada di Perpustakaan
Labuhanbatu.
5.1.2 SARAN
Berdasarkan pembahasan, saran penulis adalah
sebagai berikut:
1. Perlunya perubahan system dari manual kesisem komputerisasi untuk mempermudah semua pengorganisasian pengetahuan di Perpustakaan daerah Labuhanbatu Utara.
1. Perlunya perubahan system dari manual kesisem komputerisasi untuk mempermudah semua pengorganisasian pengetahuan di Perpustakaan daerah Labuhanbatu Utara.
2. Perlunya penambahan ruangan untuk mempermudah
mengorganisasikan bahan pustaka serta untuk kenyaman para pembaca.
3. Penambahan Staf yang ahli dalam perpustakaan, sehingga
pengklasifiasian tidak lagi di lakukan di perpustakaan Labuhanbatu.
24
DAFTAR PUSTAKA
Hasugian, Jonner.2009. Dasar-Dasar Perpustakaan dan Informasi. Medan : USU Press
Dewiyana, Himma.2012.Knowledge Management.Medan
25

Tidak ada komentar:
Posting Komentar